"Opo sih dekne kui? Kok anake dadi kabeh."
Bagi mereka, ibuk bukan siapa-siapa, tapi kenapa anak-anaknya jadi “orang” semua? Itu yang membuat mereka tidak terima.
Meski saya tidak yakin apakah kami memang se-“orang” itu untuk membuat mereka iri, tapi saya bisa mengerti. Ibuk cuma seorang pedagang pecel. Warung tempatnya berjualan pun sangat kecil dan terpencil, berada di gang sempit, dengan bagian depan tertutup tiang listrik dan kayu-kayu milik tetangga yang tampaknya sengaja ditumpuk di sana. Bapak, cuma penjahit rumahan, yang kadang mencari tambahan rezeki dengan mengayuh becak. Berkeliling kota, mengantar penumpang.
Di mata orang, mereka berdua hanyalah sepasang suami istri kelas bawah yang hidup selayaknya. Tetapi anak pertamanya mampu membeli sebuah mobil (bagi orang kampung seperti kami, memiliki mobil adalah sebuah pencapaian besar) dan hidup mandiri di ibu kota, anak keduanya yang lulusan bidan menikah dengan lelaki ASN dan kini hidup berkecukupan dengan 2 anak, anak ketiganya hendak menyusul ke jenjang pernikahan, anak keempatnya lolos seleksi politeknik Kemenkes yang terkenal susah, dan anak bontotnya masih duduk di bangku SMP dengan reputasi baik.
Kenapa… anak-anak mereka mampu hidup mandiri, berkecukupan, dan minim drama? Begitu desis orang-orang di sekitar kami.
Ingin rasanya saya gampar mulut orang-orang itu. Iri boleh, tapi nggak usah kamu bualkan itu sampai menyakiti hati Ibuk. Komentar mereka bisa saja membuat ibuk rendah diri dan berpikir bahwa dirinya tidak layak atas semua hal yang mereka dengungkan.
Mereka tidak tahu, bagaimana bapak ibuk saya—yang hanya lulusan SD itu—berjuang untuk pendidikan kami, berkelit dengan banyak hal untuk membangun mental kami.
***
Dulu, kami tinggal di sebuah pemukiman padat penduduk—mendekati kumuh—dekat rel kereta api. Jarak rumah ke rel hanya selemparan batu, cukup dekat untuk membuat dinding kayu rumah kami bergetar tiap sepuluh menit sekali saat kereta lewat.
Di gang sempit itu, anak-anak hanya bersekolah sampai tingkat SD, beberapa mungkin akan bertahan sampai SMP, tapi kemudian berhenti. Anak laki-laki akan bekerja dan anak perempuan... dinikahkan sebelum berusia 17 tahun; dengan kekasihnya yang biasanya juga tetangga satu gang. Mereka lalu punya anak, kebutuhan ekonomi meningkat, si ibu terpaksa bekerja menjadi buruh cuci atau semacamnya, namun tetap tinggal di rumah orang tua. Bukan hal yang baru saat satu bilik rumah kecil di gang itu dihuni oleh tiga bahkan empat kepala keluarga. Rentetan peristiwa itu sudah berulang beberapa generasi, sehingga bisa dibilang, kebanyakan warga di gang itu adalah saudara. Kecuali beberapa yang lain, seperti keluarga kami.
Tanpa mindset dan tekad yang kuat, apa kalian pikir akan mudah bagi pasangan yang hanya lulus SD ini membawa anak-anaknya keluar dari lingkaran mengerikan itu?
Di tahun 90-an, saat anak-anak lain di sana bersekolah di sekolah negeri yang paling dekat dari rumah, bapak ibuk justru menyekolahkan kami di sekolah swasta yang cukup jauh jaraknya. Dan asal kamu tahu, biaya sekolah swasta sama sekali tidak murah. Apakah bapak ibuk sanggup membayarnya? Sayangnya enggak. Lalu bagaimana? Di titik inilah saya mengetik sambil nangis.
Bapak memanfaatkan banyak peluang. Karena berasal dari TK di yayasan yang sama, kami bisa memperoleh potongan biaya saat masuk ke SD. Bapak ambil peluang itu. Saat sudah diterima, pihak sekolah menyampaikan ada beasiswa untuk meringankan biaya sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu. Bapak pun ambil peluang itu. Pontang-panting beliau mengurus administrasi di kantor kecamatan, kelurahan, dan di rumah ketua RT, demi mendapat beberapa lembar kertas sebagai bukti bahwa kami miskin—meski tanpa kertas itupun kami memang miskin.
Dengan beberapa lembar kertas itu, biaya SPP pun bisa dipotong. Demi apa? Demi anak-anaknya bisa belajar di sekolah yang bagus.
Kalau ada quote “time is money”; atau kalau Raditya Dika bilang, “Belilah waktu dengan uang”; maka itu tidak berlaku untuk kami. Karena bapak rela membuang banyak waktunya, agar tidak perlu mengeluarkan banyak uang.
Saya ingat betul, waktu bermain kami bersama teman-teman sebaya di gang itu sangat terbatas. Saya, kakak, dan adik perempuan saya, yang baru pulang dari sekolah pukul empat belas, dan lanjut TPQ pukul lima belas, hanya boleh keluar lagi saat kami sudah menyelesaikan PR di malam hari; untuk sekadar nonton televisi ramai-ramai di rumah tetangga karena kami belum punya. Dan sebelum pukul 20.30, kami harus sudah kembali ke rumah.
Belakangan, saya menyadari, barangkali itu adalah upaya bapak dan ibuk untuk membatasi pergaulan kami, agar kami tidak terlalu dekat dengan mereka, yang berpotensi mengganggu ritme yang telah susah payah dibangun.
Bapak pernah bilang, “Jangan jadi penjahit seperti Bapak,” ketika dulu saya minta diajarin caranya menjahit. “Biar Bapak aja yang njahit, kalian jadi orang sukses sana.”
Soal ini, ibuk juga tidak pernah menuntut kami untuk meneruskan usaha warung pecel beliau. Mungkin karena tidak adanya tuntutan inilah yang membuat kami bisa melangkah lebih jauh.
Saya pernah bekerja menjadi asisten bidan di sebuah klinik swasta dengan gaji 250.000/bulan di tahun 2013. Uang yang... buat beli bensin dan pulsa aja nggak cukup. Tapi ibuk bilang, "Ya namanya baru kerja, nggak ada yang gajinya langsung besar. Sing penting ditelateni."
Tapi orang yang menghina ibuk tadi justru menghalangi anaknya untuk bekerja dengan dalih, "Dua juta perbulan? Aku masih sanggup menghidupinya dan ngasih lebih."
Dan kejadian berikutnya bisa kita tebak bersama: anak itu tidak bekerja. Dia yang melarang anaknya bekerja dengan gaji kecil, tapi orang lain yang dicemooh karena anak-anaknya berhasil.
Mungkin beliau lupa bahwa hidup itu soal proses. Memang, ada yang kelihatannya baru lulus kuliah langsung kerja di perusahaan besar dengan gaji dua digit. Tapi, apakah tidak ada proses di belakangnya? Pasti ada. Kalau bukan dari si anak, mungkin dari orang tuanya. Bahkan kakek-neneknya. Meski yang kita lihat dari orang lain itu hanyalah hasil, tapi tidak semestinya kita gelap mata. Kita--selelah apapun--tetap harus berorientasi pada proses.
Dan itulah yang selalu bapak ibuk ajarkan pada kami.
***
Mungkin sekarang, yang kalian lihat hanya "keberhasilan". Lewat pendidikan, pekerjaan, dan harta duniawi kami. Tapi di balik itu semua, ada bapak yang ber-gerilya dalam senyap. Yang selalu banting tulang di kala siang, dan tangan menadah di panjangnya malam. Ada ibuk yang bermental baja, yang galak dalam mendidik kami, tapi lebih galak lagi pada orang yang berkata buruk tentang anaknya.
Bapak ibuk memang pasangan kelas bawah yang hidup selayaknya, tapi mereka tidak biasa-biasa saja. Mereka jatuh bangun dalam upaya, agar anak-anaknya tidak bernasib sama.
Pekalongan, 2025.
0 comments:
Posting Komentar