Ada begitu banyak perbedaan dan selisih pendapat dalam sebuah pernikahan. Wajar. Jangankan pernikahan, yang mempertemukan dua keasingan, saudara kembar yang telah bersama sejak dalam kandungan saja bisa saling selisih paham kok. Kamu-kamu-kamu yang ngakunya udah pacaran 9 tahun aja pasti juga sering berantem kan? *eh

Saya dan suami termasuk sepasang kekasih yang masa pedekate-nya singkat. Dua kali ketemu langsung lamaran, tiga bulan setelahnya sudah sah tidur seranjang. Jadi ada banyak pe-er yang perlu kami--lebih tepatnya saya sih, sebagai pihak yang lebih perasa wkwk 😬--bereskan di awal pernikahan. Ada banyak sekali perkara-perkara yang ternyata dapat memicu terjadinya perang dingin di antara kami, dari yang prinsip sampai yang remeh-temeh. 

Dan inilah salah satu contohnya.

Suami saya adalah orang yang paling tidak suka menawar harga. Misalkan saja kami berangkat ke pasar untuk membeli buah anggur, lalu sesampainya di sana kami bertanya pada seorang pedagang buah berapa harga untuk satu kilo anggur. Pedagang itu menjawab 80rb/kg. Nah, suami saya, tanpa ba-bi-bu akan langsung membayarnya dengan harga segitu. Ga pake nawar dulu. Bedaaaaa sekali dengan saya. Hal pertama yang saya lakukan pastilah mbatin, "Larang tenan!" Baru setelah itu mulai menawar pelan-pelan, 60rb/kg misalnya, sampai ketemu nominal yang disepakati bersama.

Dulu, awal menikah kami cukup sering berselisih paham soal ini. Beliau melarang saya menawar harga. Katanya, "Wong paling harga segitu kok ditawar. Giliran beli di supermarket ga pernah protes. Padahal mereka (para pedangang di pasar) itulah yang lebih butuh duit ketimbang pemilik supermarket." Begitu katanya.

Hm. Saya tidak bisa membantah. Untuk alasan demikian, beliau benar. Tapi sikap saya juga tidak sepenuhnya salah, kan? Ya, kaaan? 😢

Saya dibesarkan oleh seorang ibu yang menghabiskan sebagian besar waktu fajarnya di pasar. Berbelanja bahan pangan untuk dimasak dan sebagian lagi dijual. Beliau selalu update informasi soal harga-harga bahan pangan, dan tentu paham bagaimana orang-orang di pasar itu terkadang curang dengan melipatgandakan harga atau menambah berat timbangan. Tidak semuanya, tentu saja, tapi juga tidak sedikit.

Pernah suatu ketika ibu saya membeli dua kilo cabai merah. Tapi di perjalanan pulang, beliau ragu kalau cabai itu benar-benar seberat dua kilo, karena di tangannya, sekantong cabai itu terasa lebih ringan. Asal kamu tahu, ibu saya ini bisa memperkirakan berat barang hanya dengan modal tangan. Bahkan dengan tangannya, beliau bisa menimbang dengan cukup akurat untuk berat di bawah satu kilo. Sangar nan. Sesampainya di rumah, ibu langsung menimbang ulang cabai itu di timbangan besi miliknya. Dan benar saja, beratnya hanya 1,8 kilo, alias dua kilo kurang dua ons. Duh, Dik. Bagi wanita, apalagi wanita itu adalah seorang pedagang, kurang 0,5 ons saja merupakan sebuah kekesalan, apalagi ini 2 ons.

"Mana harga cabai sedang naik, dikurangin pula timbangannya!" Mungkin begitu omelan ibu saya waktu itu.

Kemungkinan-kemungkinan akan kecurangan seperti itu membuat ibu saya--mau tak mau--harus pintar-pintar menawar dan teliti soal keakuratan timbangan barang. Tak jarang, caranya menawar membuat orang-orang memandangnya sebagai pribadi yang "tidak punya belas kasih". Heuheu :3

Saya, yang sudah dicekoki pemandangan tawar-menawar itu setiap hari, pada akhirnya tumbuh menjadi sesosok gadis (kalem) yang menganggap bahwa menawar itu hal yang sangat wajar, dan pada satu titik, sebuah keharusan. 

Lain halnya dengan suami saya, beliau dididik oleh seorang ibu yang tidak suka menawar. Seringkali, ibu beliau justru melebihkan jumlah uang yang hendak dibayarkan, sekalian sedekah. Tapi, menurut hemat saya, ini dilakukan karena memang beliau tidak setiap hari berbelanja, apalagi belanja untuk kebutuhan dagang. Jadi, dari backround-nya saja sudah berbeda, maka sangat bisa dimaklumi jika sikap yang diambil pun berbeda.

***

Lalu bagaimana solusinya? Solusi agar saya dan suami bisa menemukan jalan tengah dari perbedaan ini.

Tentu pertama-tama, kami harus menyadari bahwa perbedaan sikap kami adalah output dari dua pengalaman hidup yang berbeda.

Dalam ilmu komunikasi, ada istilah Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE). FoR adalah nilai, konsep, cara pandang seseorang yang dipengaruhi oleh pola didik orangtua, pergaulan, buku bacaan, dll. Sedangkan FoE merupakan serangkaian kejadian yang dialami seseorang yang dapat membangun emosi dan sikap mentalnya. 

FoR dan FoE inilah yang mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu informasi atau pesan yang datang kepadanya. Dan karena kami berdua lahir dari rahim yang berbeda, dididik oleh orangtua yang berbeda, tumbuh di lingkungan yang berbeda, berteman dengan orang-orang yang berbeda, membaca buku-buku yang berbeda, mengalami hal-hal yang juga berbeda, maka amat sangat wajar jika FoR dan FoE kami pun berbeda.

Yang perlu kami lakukan kemudian adalah berkomunikasi. Komunikasi yang bertujuan untuk "membagikan yang kutahu padamu, agar kamu mengerti", bukan "memaksakan pendapatku padamu, agar kamu mengikuti". Komunikasi semacam ini kelak akan melahirkan FoR dan FoE milik bersama. Bukan lagi tentang aku dan kamu, tetapi kita. *eaa

Ia melahirkan kompromi-kompromi yang membentuk kesamaan persepsi. Dan persepsi inilah yang akan menjadi nilai yang dipegang bersama.

Apakah prosesnya instan? Yo jelas ora. Bisa memakan waktu bertahun-tahun, Dik, kalo kamu pengen tahu. Maka jika ada yang mengatakan bahwa 5 tahun pertama pernikahan adalah masa-masa sulit, sekaligus menjadi penentu bagi langgengnya sebuah pernikahan, saya tidak menyangkalnya. Meskipun tidak serta merta mengiyakan karena kondisi tiap pasangan tidak selalu sama.

Pada akhirnya, saya belajar dari suami saya untuk lebih menghargai para pedagang yang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya lewat berjualan, dan memilih untuk tidak asal menawar (selama harganya masih wajar wkwk). Dan suami saya pun perlahan menyadari bahwa menawar itu tidak selamanya buruk. Ada kalanya ketika kami akan membeli buah di pasar, dan buah yang dicari itu sedang gila-gilaan harganya, suami akan mengatakan pada saya, "Kamu aja ya yang beli, aku ga bisa nawar." 😌 Di titik inilah saya merasa begitu sempurna.

***

Kesuksesan sebuah hubungan selalu membutuhkan dua hal sebagai kunci: KOMUNIKASI, lalu diikuti dengan KOMPROMI. Untuk bisa memiliki kuncinya, kamu memerlukan kesadaran bahwa tiap individu itu berbeda, lalu terima hal itu sebagai jalan menuju legawa.

Nah, kalau kamu dan kamu sudah memiliki kesadaran itu, saya pikir kalian siap untuk melangkah menuju jenjang hubungan yang lebih menantang; pernikahan. 🤸

✍🏻
Diketik dengan senyam-senyum, di bawah langit Tegal yang kian mendung,
April 2026.
Petang kemarini, saat langit senja sedang cantik-cantiknya, saya dan suami ngobrol berdua di meja makan. Karena anak-anak sudah selesai lebih dulu, kami mengizinkan mereka menonton televisi di ruang depan. 

Seperti biasa, suami menumpahkan segala unek-unek yang memenuhi kepalanya, mulai dari tugas-tugas S2-nya yang bejibun, proyek komersilnya yang menumpuk, ide-ide yang tak pernah habis, sampai POV-nya tentang semua yang terjadi di muka bumi; termasuk soal perang terkini dan berita-berita viral. Saya, tentu kewalahan, namun tetap menampung ceritanya dengan elegan, seperti telaga yang sanggup meredam derasnya air terjun menjadi aliran yang tenang. #tsaaah

Melihatnya berceloteh seperti itu membuat saya berpikir...

Di dunia ini, ada banyak sekali tipe manusia. Dua di antaranya adalah mereka yang pandai membaca peta dan menyusun rencana, dan mereka yang terampil dalam bertahan di segala cuaca. Suami saya jelas masuk kategori pertama. Saya, ya nggak perlu ditanya tho ya. 😌

Kalau dianalogikan ke dalam sistem peluncuran SpaceX milik Elon Musk (gara-gara semalam saya habis nonton videonya di toktok 🤣), maka suami saya adalah Starshipnya; ambisius, penuh visi, dan kalau sudah bicara soal ide, rasanya seperti mendengarkan Pak Elon versi lokal yang baru saja menelan lima butir vitamin otak. Bedanya, doi nggak hobi mengubah nama media sosial menjadi satu huruf doang (baca: X) wkwk.

Buat kamu yang mungkin belum tahu, peluncuran roket Starship milik SpaceX yang reusable itu memiliki dua komponen utama dan 1 peran tambahan yang tak kalah penting; yaitu Super Heavy Booster yang menjadi pendorong tahap pertama, Starship yang menjadi pesawat ruang angkasa tahap kedua, dan Mechazilla sang menara peluncur yang menjadi titik lepas landas. Setelah berhasil meluncur, si booster akan dijatuhkan untuk mengurangi bobot pesawat, dan ditangkap kembali oleh menara untuk diisi ulang energinya.

Suami saya punya pace yang cepat. Otaknya muter terus. Ide-ide mengalir tanpa henti. Dan kalau sudah fokus, dia bisa menyelesaikan tugas dalam waktu singkat dengan analisis yang sama sekali jauh dari kata dangkal. Persis roket yang diluncurkan. Ngeri pokoknya.

Dan dia akan menjadi lebih nggak sabaran lagi ketika kurva karirnya berada di posisi lembah. Saat dia merasa kurang produktif, semua ide di kepalanya akan memberontak keluar, memaksa untuk direalisasikan. Ide-ide ini akan menjadi proyek booster yang menghasilkan daya dorong masif untuk mngangkatnya ke puncak kurva. 

Nah, masalahnya, ketika karirnya menanjak naik, dia tidak akan bisa menggendong semua proyek-proyek boosternya itu. Di titik inilah saya mengambil peran. Saya bukan roket lain yang menanti untuk diluncurkan. Saya adalah launch tower yang menjadi pijakan awal. Lalu ketika boosternya mulai dijatuhkan, lengan inilah yang akan menangkapnya kembali agar tidak menjadi sampah luar angkasa; mem-backup realisasi ide dan mengeksekusi sisanya.

Awalnya memang berat. Dulu, berkali-kali saya mbatin, "Lhah, kok dia terus yang meluncur? Ambisi saya gimana? Saya kan juga mau jadi roket yang meluncur menembus awan!"

Tapi lambat laun, lewat simulasi rumah tangga yang penuh remedial dan komunikasi yang lebih alot dari daging rendang, saya menyadari bahwa pernikahan itu soal kerja sama dan saling melengkapi. Kalau dia ambil peran menjadi Starship yang sibuk dengan urusan langit, maka saya cukup bangga menjadi Mechazilla yang berdiri kokoh di bumi. Toh, sekeren-kerennya Starship, tanpa menara yang mengisi ulang bahan bakarnya, dia cuma akan jadi rongsokan baja di tengah segara. Wk

Menara peluncur yang stabil juga merupakan titik awal keberhasilan sistem dan kunci kebahagiaan semua kru. Kalau menaranya goyah, roket gagal meluncur, dan anak-anak kami (roket-roket kecil masa depan) akan kehilangan tempat lepas landas yang aman.

Kami berbagi peran. Dia yang terbang, saya yang memastikan dia punya tempat untuk pulang. Tidak saling mendahului, namun saling melengkapi dalam satu sistem peluncuran yang tak terhentikan. #eaaa

Sebagai penutup dari tulisan embuh di siang bolong ini, kamu cuma perlu tahu, untuk membangun menara sebadass Mechazilla, Elon Musk butuh miliaran dollar. Tapi saya, cuma butuh kesabaran seluas samudra dan asupan kopi yang cukup. #iziiin

Tegal,
April 2026.
Beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial kita terasa seperti ruang sidang terbuka. Satu unggahan, satu video singkat, satu kalimat bernada pamer atau sindiran, bisa berubah menjadi gelombang opini yang deras. Kita menyaksikan bagaimana kasus “Anita tumbler” berujung pada pemecatan dirinya dan suami. Kita juga melihat bagaimana sikap "pamer" seorang ibu Bhayangkari yang berdampak pada pasangan dan institusi, hingga mereka perlu mengunggah video klarifikasi. Dan tentu saja yang masih hangat diperbincangkan, ada Dwi Sasetyaningtyas yang viral dengan kalimat "cukup aku aja yang WNI, anakku jangan", dan menyeret konsekuensi serius bagi suaminya terkait beasiswa LPDP. Polanya serupa: istri yang aktif atau "berulah" di media sosial, namun suami yang menerima imbasnya.

Fenomena ini bukan sekadar gosip digital; ia adalah cermin dari bagaimana reputasi bekerja di era modern. Dalam banyak struktur sosial, terutama ketika suami bekerja di lembaga publik, aparat, pemerintahan, atau institusi yang menjunjung tinggi integritas, identitas pribadi dan keluarga kerap melebur. Masyarakat tidak memisahkan secara kaku antara “itu urusan istri” dan “ini urusan suami”. Dalam persepsi publik, keluarga adalah satu kesatuan nilai. Ketika satu anggota terlihat arogan, pamer berlebihan, atau memanfaatkan simbol status, bayangannya jatuh ke seluruh rumah.

Media sosial mempercepat proses itu. Ia menghapus konteks dan memperbesar emosi. Sesuatu yang mungkin diniatkan sebagai kebanggaan pribadi dapat dibaca sebagai kesombongan. Unggahan yang dimaksudkan sebagai candaan bisa ditafsirkan sebagai penyalahgunaan. Isi hati yang dinarasikan dengan tidak bijak sangat mungkin memicu kecaman. Dan kita sama-sama tahu bagaimana kinerja netizen Indonesia dalam membongkar identitas dan seluk-beluk manusia yang dipergunjingkan; lihai, rapid, dan tepat sasaran.

Mengapa oversharing begitu menggoda? Karena media sosial menawarkan validasi instan. Ada angka yang terus bergerak: likes, views, komentar, pengikut. Setiap notifikasi memberi rasa diakui. Dalam dunia yang kompetitif dan penuh pembandingan, orang mudah tergoda untuk menunjukkan bahwa hidupnya baik-baik saja, bahkan lebih dari sekadar baik. Namun validasi publik sering datang dengan harga tersembunyi. Semakin tinggi panggung yang dibangun, semakin keras pula suara ketika panggung itu goyah.

Dalam konteks pernikahan, terutama di budaya kita yang masih menjunjung nilai kolektivitas, istri sering dipandang sebagai penjaga marwah keluarga. Marwah bukan sekadar gengsi; ia adalah reputasi yang dibangun dari waktu ke waktu melalui kerja keras, etika, dan konsistensi. Ketika suami memikul tanggung jawab profesional yang besar, reputasinya menjadi aset yang rapuh. Satu isu saja bisa merusak kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Di sinilah peran pasangan menjadi penting: bukan untuk membatasi kebebasan, melainkan untuk memahami risiko.

Menjaga marwah di era digital bukan berarti hidup dalam ketakutan atau membungkam diri. Seorang istri tetap berhak berekspresi, berkarya, dan memiliki identitasnya sendiri. Namun kebijaksanaan terletak pada kesadaran akan batas. Tidak semua hal layak dipublikasikan. Tidak semua fasilitas perlu dipamerkan. Tidak semua konflik rumah tangga perlu dijadikan konten. Ada ruang-ruang yang lebih aman ketika dijaga dalam lingkaran privat.
Sikap yang seharusnya dipegang bukanlah tunduk tanpa suara, melainkan matang dalam pertimbangan. Sebelum mengunggah sesuatu, ada baiknya bertanya: apakah ini akan berdampak pada pekerjaan pasangan? Apakah ini bisa menimbulkan salah tafsir? Apakah ini mencerminkan nilai yang ingin kami jaga sebagai keluarga? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu sering menjadi pagar yang menyelamatkan.

Cinta dalam pernikahan pada akhirnya bukan hanya tentang dukungan emosional, tetapi juga perlindungan reputasi. Jika suami berusaha menjaga integritas di ruang publik, istri dapat menjadi sekutu yang menguatkan, bukan celah yang melemahkan. Begitu pula sebaliknya. Pernikahan adalah persekutuan dua nama; ketika satu nama tercoreng, yang lain tak akan benar-benar bersih.

Kita hidup di zaman ketika tangkapan layar lebih abadi daripada niat baik. Sekali viral, jejak digital sulit dihapus. Maka kehati-hatian bukanlah sikap kuno, melainkan kecerdasan sosial. Keanggunan hari ini bukan lagi hanya tentang cara berpakaian atau berbicara, tetapi tentang kemampuan menahan diri di tengah godaan untuk selalu tampil.

Pada akhirnya, menjaga marwah bukan tugas sepihak. Ia adalah komitmen bersama untuk menempatkan kehormatan di atas sensasi, kebijaksanaan di atas validasi, dan tanggung jawab di atas popularitas sesaat. Dalam dunia yang gemar memviralkan kesalahan, mungkin sikap paling revolusioner adalah kesadaran bahwa tidak semua hal harus menjadi tontonan. Ada kekuatan besar dalam diam yang terjaga, dan ada kemuliaan dalam keluarga yang memilih untuk tetap utuh daripada sekadar terlihat unggul.

Cerita tentang Bapak selalu menjadi hal yang paling menguras emosi. Bagi saya, Bapak selalu menjadi tokoh utama yang ingin saya buat bahagia. Mungkin di kehidupan dewasa ini, banyak hal terlewatkan untuk mewujudkannya, tapi semoga suatu saat kesempatan itu datang kepada saya.

BBapak sering sekali bercerita tentang pengalaman-pengalaman beliau ketika mencari nafkah. Pernah suatu hari, ketika kami sedang bercengkerama di pawon rumah sembari membantu Ibu berjualan, Bapak bercerita…

Dulu sekali, saat Mbak Liya dan saya masih sangat kecil, Bapak muda yang masih aktif membecak itu mengayuh pedal becaknya membawa penumpang di tengah guyuran hujan yang begitu deras. Bapak memakai jas hujan model kelelawar, yang menutupi bagian atas tubuhnya sampai ke lutut, sedang kakinya terpaksa dibiarkan basah karena menurut Bapak jas hujan model celana justru dapat menghambat gerak kayuhannya. Ada penutup ksaat itu, penutup kepala hanya menjadi hiasan. Wajah dan leher bapak tertampar air hujan berkali-kali. Bapak bilang, matanya sampai perih karena harus terus melihat ke jalanan tapi air hujan menerjang tanpa jeda. Rasanya seperti ditusuk-tusuk.

Baru mendengar bagian pembukanya saja, mata saya sudah mbrambang, basah oleh air yang susah payah ditahan.

Penumpang yang bapak bawa sore itu minta diantar sampai ke rumah. Dan rumahnya ada di sebuah perkampungan padat di daerah Kandang Panjang dengan jalanan yang sangat sempit yang berbatasan langsung dengan empang tanpa penutup. Saking sempitnya, jalanan di kampung itu hanya bisa dilewati 1 becak. Jadi, kalau ada satu saja pengendara sepeda dari arah berlawanan, maka dia harus mau mengalah dengan melipir ke teras rumah orang.

Sore itu, dengan kondisi cuaca yang buruk, Bapak mengayuh becaknya memasuki gang. Kata Bapak, atap becak yang tertutup sudah cukup menyulitkan pandangan ke arah jalanan, bahkan saat cuaca cerah sekalipun, apalagi saat hujan deras. Di perkampungan itu, rumah-rumah berderet hanya di salah satu sisi jalan. Karena sisi lainnya adalah empang, atau nama lainnya adalah selokan tapi lumayan lebar. Sejak memasuki gang sempit itu, satu doa yang Bapak rapalkan adalah, jangan sampai ada kendaraan lain yang lewat dari arah berlawanan. Itu saja.

Tapi sepertinya sore itu bapak sedang sial. Beberapa puluh meter di depannya, ada motor mendekat. Rumah penumpangnya sudah dekat, tapi bapak tidak punya cara untuk membuat pengendara motor itu berhenti sejenak. Bunyi bel becak yang kring-kring itu tak mampu mengalahkan bising hujan. Berteriak pun percuma.

Jadi, secara reflek bapak sedikit membelokkan setir becaknya ke arah empang, agar tidak bertabrakan dengan motor tadi. Tapi, seperti yang sering terjadi dalam kehidupan dimana kita yang niatnya mau menghindar justru terperosok, begitu pulalah bapak, di sore yang basah itu.

Satu roda becaknya tergelincir dan anjlok ke empang, membuat badan becaknya ambruk ke depan. Bapak kaget, penumpangnya lebih kaget lagi. Mereka adalah seorang ibu muda dan anak balitanya. Segera setelah becak Bapak anjlok, anak balita itu menangis meraung-raung. Antara kaget dan takut.

Bapak tergopoh-gopoh turun dari sadelnya untuk menjelaskan kepada penumpangnya. Tapi bahkan sebelum Bapak sempat berkata-kata, seorang laki-laki berbadan besar muncul di belakang bapak. Dia, tanpa bertanya apapun, langsung memaki-maki Bapak.

Dalam hidup, selalu saja ada orang seperti ini. Yang bertindak tanpa bertanya, yang bereaksi tanpa tahu yang sebenarnya terjadi.

Laki-laki berbadan besar tadi hampir saja memukul bapak kalau saja sang istri tidak mencegahnya. Ya, ternyata laki-laki itu adalah suami dari ibu muda yang naik becaknya bapak. Ketika mendengar suara tangis anaknya di tengah deras hujan, laki-laki itu langsung keluar dengan amarah, mengira bapaklah yang menjadi sumber masalah. Seolah sisi heroic-nya akan terluka jika tahu anaknya tersakiti tapi dia tidak melakukan apa-apa.

Ujian bapak belum selesai sampai di situ.
Laki-laki itu menolak membayar Bapak atas jasanya mengantarkan istri dan anaknya pulang, dia juga melarang istrinya menyerahkan uang. Mungkin baginya, itu adalah balasan karena Bapak tidak becus mengemudikan becak. Setelah memaki-maki dan menyumpah-serapahi bapak, laki-laki itu menggendong anaknya dan mengajak keluarga kecilnya masuk ke rumah. Bapak, hanya bisa terdiam, lalu pelan-pelan mengangkat roda becaknya, sendirian. Katanya, sambil tersenyum kecut, beliau sempat membatin, "Ya Gustiii, gini amat cari uang."

Siapa coba yang nggak nangis mendengar cerita itu langsung dari Bapak? Meskipun bapak menceritakannya sambil tertawa, tapi hawa melankolis dari atmosfer ceritanya sangat terasa. Getir pada suaranya menyisakan rasa sesak di dada. Dan itu adalah cerita yang tidak pernah bisa direspon dengan biasa saja. Darinya, saya jadi tahu bahwa kami dibesarkan dengan penuh perjuangan.

Untungnya, cerita yang Bapak sampaikan tadi tidak berakhir mengecewakan. Setelah Bapak selesai membetulkan posisi becaknya dengan susah payah, (asli, ngangkat sebelah roda becak sendirian itu nggak mudah loh!), perempuan tadi memanggilnya. Ternyata, sementara Bapak sibuk mengangkat roda becaknya, perempuan itu menjelaskan kepada suaminya kronologi kejadian sampai becak Bapak anjlok. Dan itu bukan salah Bapak. Anak mereka juga tidak terluka sama sekali. Hanya kaget. Jadi, tidak seharusnya sang suami memperlakukan bapak seperti itu. Bapak diminta masuk ke dalam rumah untuk berteduh, diberikan baju kering untuk ganti, dan dibuatkan teh hangat. Bapak juga dibayar sebagai mana mestinya.

Syukurlah, semesta masih berpihak kepada Bapak. Hujan sore itu mungkin telah menimbulkan sebuah petaka, tapi di balik itu, ada berkah yang terselip, yang tanpa keluasan hati seperti yang Bapak punya, orang bisa saja hanya mengingat buruknya. Tapi Bapak... Bapak selalu punya cara untuk tidak mendekap luka terlalu lama, dan hanya mengingat hal-hal baik, untuk diceritakan lagi dengan tawa.

Pekalongan,
Ditulis kembali di Tegal, tahun 2025.

Siapa orang yang paling memahamimu saat kamu sedang mati-matian beradaptasi menjadi ibu baru?

Setelah proses panjang persalinan yang meremukkan badan, yang saya hadapi kemudian bukanlah keleluasaan untuk bersantai tanpa gangguan, melainkan perjuangan untuk menyesuaikan mental dengan tugas-tugas baru; menyusui tanpa henti, menggendong tanpa jeda, memastikan manusia kecil itu tercukupi kebutuhannya—sambil menahan sakit, antara lecet pada puting dan jahitan berlapis di kemaluan.

Menurutmu, siapa yang paling bisa memahami di fase penting itu?

Jawaban saya adalah ibu.

Ibu saya.

Hanya ibu saya.

Sekalipun, perlu kamu tahu, saya tidak pernah dekat dengan ibu.


***

Sejak saya bisa mengingat, saya memang cenderung lebih dekat kepada Bapak. Beberapa tulisan yang saya posting entah di facebook maupun blog, adalah hasil obrolan kami sehari-hari. Sementara Ibuk jarang sekali mengajak saya bicara, apalagi bercerita tentang hal-hal lucu yang pernah dialaminya. Kalimat-kalimat yang terlontar dari Ibuk seringkali hanya berupa perintah-perintah, atau kalimat tanya tentang letak suatu benda yang tengah dia cari. 

Banyak orang bilang, dibandingkan dengan kakak dan adik-adik saya, sayalah yang paling mirip dengan Ibuk. Baik fisik maupun wataknya. Mungkin itu jugalah yang menjadikan kami bagai dua kutub magnet yang sama, yang saling menolak jika didekatkan. Ibuk melihat kekurangan dirinya ada pada saya, dan saya, anaknya yang kurangajar ini, dengan angkuhnya menganggap Ibuk "terlalu begini, terlalu begitu" padahal sejatinya saya sedang menilai diri sendiri.

Hampir tidak ada moment dimana saya dan Ibuk terlihat duduk berdua saja sampai lebih dari lima menit, kecuali salah satu dari kami beranjak lebih dulu. Itu pun hanya duduk, tanpa ada sepatah kata yang keluar. Berbeda ketika ada adik atau kakak saya di sana, yang lebih bisa mencairkan suasana dengan obrolan ngalor-ngidul dan mendapat respon apik dari Ibuk.

Sampai saya lulus kuliah, kecanggungan ini masih terus terpelihara. Bahkan sampai akhirnya saya menikah. Tidak ada petuah-petuah intim antara seorang Ibu dengan anak perempuannya yang sebentar lagi akan menjadi istri. Tidak ada nasehat-nasehat. Tidak ada basa-basi semisal "Apakah kamu gugup?" atau yang lainnya. Ingin rasanya saya bertanya, "Buk, aku harus bagaimana nantinya?" ketika pada satu titik, saya dilanda kebingungan hebat akibat syndrome pranikah. Tapi tidak saya tanyakan. Sebab canggung.

Di hari pernikahan pun, ketika ada prosesi sungkem kepada kedua orang tua, dimana biasanya orang tua akan membisikkan sedikit nasehat atau doa di telinga pengantin, Ibuk tidak melakukannya. Sungguh stay cool sekali Ibuk saya itu.

Tapi semua sikap dingin itu, sikap cuek yang ditampakkannya selama ini, tidak saya lihat pada hari keberangkatan saya ke Ternate. Sepanjang perjalanan sampai di bandara, mata Ibuk sembab. Bapak menyuruh saya mendekati Ibuk (Ya Gusti, mau mendekati Ibuknya sendiri saja kok pake disuruh segala), dan menanyakan keadaannya. Saya manut.

"Ibuk kenapa, Buk?" Tanya saya begitu duduk di samping Ibuk. Sungguh anak yang tidak pandai berbasa-basi.

"Rapopo. Kelilipan." Jawab Ibuk pelan. 

"Oh." Saya menanggapi singkat. Padahal saya tahu, semalam Ibuk tidak bisa tidur, dan beberapa hari terakhir Ibuk juga tidak enak badan karena memikirkan anaknya yang mau pergi jauh. Bapak yang mengatakannya pada saya, beberapa saat sebelum dia menyuruh saya mendekati Ibuk.

Satu detik pertama, saya sebal pada Ibuk yang tidak mau jujur bahwa dia kepikiran soal saya. Detik berikutnya, saya yang tidak kuat menahan emosi. Saya memeluk Ibuk. Kemudian menangis.

"Maafin aku ya, Buk. Belum bisa ngasih apa-apa, tapi sudah mau pergi." Saya berbisik sesenggukan.

Tangis Ibuk pun pecah. "Rapopo, rapopo. Sak titahe Gusti Allah. Ibuk ngrestui. Rapopo." Begitu katanya, sambil mengelus lengan saya yang melingkar di bahunya. Sesekali mengusap air mata dengan ujung jilbabnya.

Barangkali itulah kali pertama saya memeluknya dengan sadar. Sebelum kemudian kami tidak bertemu lagi hampir lima bulan.


Ternate,

Diketik dengan mata berlinang, bertahun-tahun lalu.







Menjelang pernikahan adik saya tahun lalu, banyak hal-hal yang sebelumnya tersembunyi muncul ke permukaan, termasuk kedengkian orang-orang di lingkungan tempat tinggal kami. Mereka begitu berisik saat tahu adik saya, yang belum lama diangkat menjadi pegawai negeri—pekerjaan impian sejuta umat—akan mengadakan intimate wedding dengan seorang angkatan bersenjata di sebuah padepokan. Sebuah pencapaian yang wah, dengan konsep pernikahan yang—bagi orang-orang di lingkungan kami—tidak umum. Andaikata berisiknya mereka hanya berisi kekaguman, mungkin saya tidak akan terganggu. Tapi sayangnya, mereka berdesis dengan nada mencemooh. Dan ketika ini ditulis, saya mendengar, ibuk dihina.

"Opo sih dekne kui? Kok anake dadi kabeh."

Bagi mereka, ibuk bukan siapa-siapa, tapi kenapa anak-anaknya jadi “orang” semua? Itu yang membuat mereka tidak terima.

Meski saya tidak yakin apakah kami memang se-“orang” itu untuk membuat mereka iri, tapi saya bisa mengerti. Ibuk cuma seorang pedagang pecel. Warung tempatnya berjualan pun sangat kecil dan terpencil, berada di gang sempit, dengan bagian depan tertutup tiang listrik dan kayu-kayu milik tetangga yang tampaknya sengaja ditumpuk di sana. Bapak, cuma penjahit rumahan, yang kadang mencari tambahan rezeki dengan mengayuh becak. Berkeliling kota, mengantar penumpang.


Di mata orang, mereka berdua hanyalah sepasang suami istri kelas bawah yang hidup selayaknya. Tetapi anak pertamanya mampu membeli sebuah mobil (bagi orang kampung seperti kami, memiliki mobil adalah sebuah pencapaian besar) dan hidup mandiri di ibu kota, anak keduanya yang lulusan bidan menikah dengan lelaki ASN dan kini hidup berkecukupan dengan 2 anak, anak ketiganya hendak menyusul ke jenjang pernikahan, anak keempatnya lolos seleksi politeknik Kemenkes yang terkenal susah, dan anak bontotnya masih duduk di bangku SMP dengan reputasi baik.

Kenapa… anak-anak mereka mampu hidup mandiri, berkecukupan, dan minim drama? Begitu desis orang-orang di sekitar kami.

Ingin rasanya saya gampar mulut orang-orang itu. Iri boleh, tapi nggak usah kamu bualkan itu sampai menyakiti hati Ibuk. Komentar mereka bisa saja membuat ibuk rendah diri dan berpikir bahwa dirinya tidak layak atas semua hal yang mereka dengungkan.

Mereka tidak tahu, bagaimana bapak ibuk saya—yang hanya lulusan SD itu—berjuang untuk pendidikan kami, berkelit dengan banyak hal untuk membangun mental kami.

***

Dulu, kami tinggal di sebuah pemukiman padat penduduk—mendekati kumuh—dekat rel kereta api. Jarak rumah ke rel hanya selemparan batu, cukup dekat untuk membuat dinding kayu rumah kami bergetar tiap sepuluh menit sekali saat kereta lewat.

Di gang sempit itu, anak-anak hanya bersekolah sampai tingkat SD, beberapa mungkin akan bertahan sampai SMP, tapi kemudian berhenti. Anak laki-laki akan bekerja dan anak perempuan... dinikahkan sebelum berusia 17 tahun; dengan kekasihnya yang biasanya juga tetangga satu gang. Mereka lalu punya anak, kebutuhan ekonomi meningkat, si ibu terpaksa bekerja menjadi buruh cuci atau semacamnya, namun tetap tinggal di rumah orang tua. Bukan hal yang baru saat satu bilik rumah kecil di gang itu dihuni oleh tiga bahkan empat kepala keluarga. Rentetan peristiwa itu sudah berulang beberapa generasi, sehingga bisa dibilang, kebanyakan warga di gang itu adalah saudara. Kecuali beberapa yang lain, seperti keluarga kami.

Tanpa mindset dan tekad yang kuat, apa kalian pikir akan mudah bagi pasangan yang hanya lulus SD ini membawa anak-anaknya keluar dari lingkaran mengerikan itu?

Di tahun 90-an, saat anak-anak lain di sana bersekolah di sekolah negeri yang paling dekat dari rumah, bapak ibuk justru menyekolahkan kami di sekolah swasta yang cukup jauh jaraknya. Dan asal kamu tahu, biaya sekolah swasta sama sekali tidak murah. Apakah bapak ibuk sanggup membayarnya? Sayangnya enggak. Lalu bagaimana? Di titik inilah saya mengetik sambil nangis.

Bapak memanfaatkan banyak peluang. Karena berasal dari TK di yayasan yang sama, kami bisa memperoleh potongan biaya saat masuk ke SD. Bapak ambil peluang itu. Saat sudah diterima, pihak sekolah menyampaikan ada beasiswa untuk meringankan biaya sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu. Bapak pun ambil peluang itu. Pontang-panting beliau mengurus administrasi di kantor kecamatan, kelurahan, dan di rumah ketua RT, demi mendapat beberapa lembar kertas sebagai bukti bahwa kami miskin—meski tanpa kertas itupun kami memang miskin.

Dengan beberapa lembar kertas itu, biaya SPP pun bisa dipotong. Demi apa? Demi anak-anaknya bisa belajar di sekolah yang bagus.

Kalau ada quote “time is money”; atau kalau Raditya Dika bilang, “Belilah waktu dengan uang”; maka itu tidak berlaku untuk kami. Karena bapak rela membuang banyak waktunya, agar tidak perlu mengeluarkan banyak uang.

Saya ingat betul, waktu bermain kami bersama teman-teman sebaya di gang itu sangat terbatas. Saya, kakak, dan adik perempuan saya, yang baru pulang dari sekolah pukul empat belas, dan lanjut TPQ pukul lima belas, hanya boleh keluar lagi saat kami sudah menyelesaikan PR di malam hari; untuk sekadar nonton televisi ramai-ramai di rumah tetangga karena kami belum punya. Dan sebelum pukul 20.30, kami harus sudah kembali ke rumah.

Belakangan, saya menyadari, barangkali itu adalah upaya bapak dan ibuk untuk membatasi pergaulan kami, agar kami tidak terlalu dekat dengan mereka, yang berpotensi mengganggu ritme yang telah susah payah dibangun. 

Bapak pernah bilang, “Jangan jadi penjahit seperti Bapak,” ketika dulu saya minta diajarin caranya menjahit. “Biar Bapak aja yang njahit, kalian jadi orang sukses sana.” 

Soal ini, ibuk juga tidak pernah menuntut kami untuk meneruskan usaha warung pecel beliau. Mungkin karena tidak adanya tuntutan inilah yang membuat kami bisa melangkah lebih jauh.

Saya pernah bekerja menjadi asisten bidan di sebuah klinik swasta dengan gaji 250.000/bulan di tahun 2013. Uang yang... buat beli bensin dan pulsa aja nggak cukup. Tapi ibuk bilang, "Ya namanya baru kerja, nggak ada yang gajinya langsung besar. Sing penting ditelateni."

Tapi orang yang menghina ibuk tadi justru menghalangi anaknya untuk bekerja dengan dalih, "Dua juta perbulan? Aku masih sanggup menghidupinya dan ngasih lebih."

Dan kejadian berikutnya bisa kita tebak bersama: anak itu tidak bekerja. Dia yang melarang anaknya bekerja dengan gaji kecil, tapi orang lain yang dicemooh karena anak-anaknya berhasil.

Mungkin beliau lupa bahwa hidup itu soal proses. Memang, ada yang kelihatannya baru lulus kuliah langsung kerja di perusahaan besar dengan gaji dua digit. Tapi, apakah tidak ada proses di belakangnya? Pasti ada. Kalau bukan dari si anak, mungkin dari orang tuanya. Bahkan kakek-neneknya. Meski yang kita lihat dari orang lain itu hanyalah hasil, tapi tidak semestinya kita gelap mata. Kita--selelah apapun--tetap harus berorientasi pada proses.

Dan itulah yang selalu bapak ibuk ajarkan pada kami.

***

Mungkin sekarang, yang kalian lihat hanya "keberhasilan". Lewat pendidikan, pekerjaan, dan harta duniawi kami. Tapi di balik itu semua, ada bapak yang ber-gerilya dalam senyap. Yang selalu banting tulang di kala siang, dan tangan menadah di panjangnya malam. Ada ibuk yang bermental baja, yang galak dalam mendidik kami, tapi lebih galak lagi pada orang yang berkata buruk tentang anaknya.

Bapak ibuk memang pasangan kelas bawah yang hidup selayaknya, tapi mereka tidak biasa-biasa saja. Mereka jatuh bangun dalam upaya, agar anak-anaknya tidak bernasib sama.

Pekalongan, 2025.

Sore itu, aku dan Embah Kakung duduk berdua di bawah rindang pohon belimbing. Menikmati semilir angin yang bertiup melewati celah-celah atap rumah kampung.

"Mbah, mpun mirsani berita?" Tanyaku sambil mengayun-ayunkan kaki yang tak menapak tanah. Sok imut. "Terose harga BBM naik." Lanjutku pelan.

Embah hanya bergumam tanda mengiyakan.

"Pendapate Mbah Di, pripun?" Mbah Di adalah panggilan akrab Embahku yang ganteng itu.

"Yo rapopo. Wong memang kudu mundak." Jawabnya cool.

"Mbah Di mboten sebel kalih pemerintah?"

"Nggo opo." Kata Embah singkat. "Mundahke BBM kuwi sesuatu sing sifate bakal (akan) lan kudu (harus). Nek ora dino iki, yo ngesuk. Ora bakal orak. Tinggal rakyate bae sing siap nrimo opo milih nggresulo."

Aku manggut-manggut. Beberapa ekor burung melintas di atas kepala kami.

"Regi sayuran, beras, kalih bumbu pawon ugi mundak, Mbah." Lagi-lagi aku memprovokasi.

"Kuwi jenenge efek samping. Ibarat ngombe CTM (Chlorpeniramine Maleat, anti alergi yang biasa digunakan sebagai pelengkap dalam pengobatan influenza), kowe mesti ngantuk. Kuwi efek samping."

"Tapi Mbah Di kan mboten nitih motor, mboten nate tumbas bensin nopo solar, tapi ngraosaken susah margi regi2 bahan pangan nderek awis. Ibarate niku mboten ngunjuk obat CTM tapi kok kenging efek sampinge uga?" Tanyaku panjang lebar.

Dengan kalemnya Embah menanggapi, "Sing diobati kuwi Indonesia. Kowe rakyat Indonesia opo dudu?"

Aku buru-buru mengangguk.

"Nha yowes. Kelar urusane."

Aku tersenyum simpul.
Dan sisa sore itu kami habiskan dengan obrolan ringan tentang rindu pada sanak saudara yang tinggal di kota orang.

Pekalongan, 19 November 2014
Saya kira saya akan baik-baik saja. Sebab mengasuh satu bayi dan satu balita ternyata gak repot-repot amat. Dengan luka operasi yang masih basah, saya tetap bisa mengerjakan tugas-tugas rumah tangga seperti nyuci, nyapu, ngepel, masak, sambil menyusui Elang dan membersamai Singa bermain. Saya kira saya akan baik-baik saja, sampai kemudian hari itu tiba.

Singa berlarian di dalam rumah ketika saya tengah memandikan elang di ruang depan, tiga minggu setelah melahirkan. Karena berat lahir Elang tak sampai 2 kilo, saya tidak memandikannya langsung di dalam bak. Saya hanya mengelap tubuhnya menggunakan sabun, waslap, dan air hangat yang saya siapkan dalam wadah plastik di samping perlak kasur milik Elang. Hal yang saya sesali kemudian adalah wadah air itu tak langsung saya singkirkan segera setelah Elang selesai mandi. Saya lebih memilih untuk mengeringkan tubuh Elang menggunakan handuk lalu memakaikannya pakaian ganti, tepat ketika Singa berlari mendekat dan tak sengaja menginjak wadah air. Air yang telah bercampur sabun itu tumpah, dan Singa jatuh terpeleset dengan posisi wajah menghantam lantai. Terdengar suara berdebam yang cukup keras, diikuti jerit tangis Singa. Hati saya mencelos, seperti tersayat pedang panas.

Saya langsung menghampirinya dan mengecek kondisinya dengan hati kalut. Gusi depannya berdarah. Bibir atasnya jontor dan memar. Segera saya peluk anak itu. Saya ketakutan. 

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja rasa bersalah itu muncul dan menjalar menggerogoti mental saya. Rasa bersalah yang sama yang saya rasakan tiga minggu sebelumnya, ketika Orca dinyatakan tiada. Rasa bersalah yang menggiring saya menuju ketakutan akan kehilangan. Yang kemudian membuat pikiran-pikiran negatif berkecamuk dalam kepala, dan pada satu titik berkata pada diri sendiri, "Apakah saya yang telah membunuh anak saya?"

Saya meraung-raung. Tangis saya bahkan lebih keras dari Singa. Saya ketakutan.

"Maafin ibuk ya, Le. Maafin ibuk." Saya mengulang kalimat itu berkali-kali. Sambil menggendongnya erat. Tak saya pedulikan nyeri luka jahit yang tertekan berat Singa. "Asqi sakit ya? Giginya sakit kena lantai? Maafin ibuk ya, sayang."

Saya rasa, saya hampir gila saat itu. Saya menangis tanpa henti sambil terus memeluk Singa yang juga menangis. Elang tetap di atas kasurnya, diam dalam kehangatan selimut. 

Selang beberapa saat akhirnya saya sadar bahwa saya butuh bantuan. Saya harus meminta bantuan agar mampu bertahan dalam kondisi mental yang gak mudah ini. Saya pun menelepon suami, memintanya untuk pulang saat itu juga karena Singa jatuh dan saya ketakutan.

Suami pulang dengan segera. Dan seminggu kemudian, saya berserta anak-anak dipulangkan ke rumah orang tua di kampung. Agar saya ditemani.

Saya kira saya akan baik-baik saja. Tapi ternyata kehilangan itu meninggalkan trauma. 

Jakarta, 30 Maret 2020
KEHILANGAN. Awal Maret 2003, adik bungsu kami dipanggil pulang. Namanya Bina. Usianya baru satu tahun lebih tiga belas hari. Masih senang-senangnya merambat, berjalan berpegangan kesana kemari.

Bina kejang pada Jum'at pagi, lalu tak sadarkan diri hingga Sabtu sore sebelum saya menjenguknya ke rumah sakit. Dokter menyebut-nyebut radang selaput otak, belakangan lebih dikenal dengan meningitis. Entahlah, bocah 10 tahun seperti saya tahu apa soal istilah-istilah. Saya hanya ingin bayi di depan kami itu sadar dan menangis, bukan tergeletak lunglai dengan wajah pucat dan ujung mata berair tanpa suara. Tapi takdir telah ditetapkan. Sore itu juga, ketika saya masih berdiri di samping ranjang tempatnya berbaring, nyawa Bina dijemput. Dia sempat bergerak, lalu merintih pelan, membuat kami lega dan Bapak langsung berbisik riang mengatakan bahwa "Mbak Fina akan menginap di rumah sakit untuk menemani Bina", agar Bina makin semangat untuk memperjuangkan kesembuhannya. Tapi sesaat kemudian tubuhnya kembali lesu, dan mendadak telapak kakinya dingin. Ibu langsung panik dan meminta Bapak memanggil dokter. Dokter datang. Saya masih sempat melihat dokter mengecek denyut jantung Bina menggunakan stetoskop, sebelum Ibu memberi isyarat pada bulek untuk membawa saya keluar ruangan. Dan saya juga masih sempat melihat dokter itu kemudian mengusap pelan wajah Bina, yang saya tahu betul apa artinya. Bina telah pergi. Untuk selamanya.

Saya menangis.

Sekalipun saya belum mengerti apa yang menyebabkan Bina pergi, saya bisa merasakan bahwa kehilangan itu menyakitkan.

Tapi sesedih-sedihnya bocah 10 tahun, tak sampai dua hari, tangisnya terhenti. Masa berkabung telah terlewati, meski duka masih menggelayut di dalam hati. Mbak Liya dan Rizka, dua saudari saya yang lain, juga telah berhenti menangis. Bapak pun sama. Apalagi Bapak harus mengurus ini itu terkait pemakaman dan pengajian untuk mendoakan jenazah Bina, yang membuat fokusnya terpecah dan tidak lama-lama larut dalam kesedihan. Tapi tidak demikian dengan Ibu.

Malam hari setelah tahlilan selesai digelar dan semua tetangga pulang ke rumahnya, isak tangis Ibu masih terdengar mengisi keheningan. Beberapa kali Ibu bangkit dari duduknya secara tiba-tiba, lalu melongok ke ruang tengah sambil memanggil-manggil nama Bina, "Na.. Bina?" Seolah Ibu mendengar suara Bina yang tengah merangkak riang dari ruang tengah, seperti rutinitasnya tiap hari sebelum dia meninggalkan kami. Lalu ketika Ibu sadar bahwa itu hanya halusinasi, ia kembali menangis, kali ini lebih melengking. Membuat hati ini teriris perih.

Saya, Mbak Liya, dan Rizka, hanya duduk terdiam saling berpandangan. Kami tidak tahu harus berbuat apa. Saya mengira-ngira apa yang Ibu rasakan di hati terdalam Ibu saat itu. Kalau hanya sedih, kami pun sedih. Bapak juga sedih. Tapi kenapa hanya Ibu yang terus menangis?

***

Hampir 17 tahun kemudian, Allah menjawab pertanyaan itu dengan membuat saya merasakannya sendiri. Tanggal 16 Februari kemarin, satu dari sepasang janin kembar yang saya kandung meninggal dunia. Allah memanggilnya pulang bahkan sebelum saya sempat mendekapnya dalam pelukan. Dan ketika akhirnya kami bertemu dalam fisik, saya melihatnya telah membiru.

Perasaan gagal dan bersalah terus-menerus menggempur dada sejak saat itu, membuat sesak. Bisikan-bisikan pertanyaan tentang "seandainya" terdengar nyaring di dalam kepala. Seandainya saja begini, seandainya saja begitu, apakah takdirnya akan berbeda? Apakah ujung jalannya tidak akan sama? Apakah jasad mungil yang terbungkus selimut itu dapat menangis sebagaimana saudara kembarnya?

Ternyata sedih saja tidak cukup untuk mendefinisikan perasaan saya. Ada rindu yang bercampur sesal, ada kecewa yang menyusup dalam-dalam, yang kemudian membuncah menjadi sikap menyalahkan diri sendiri. "Maaf ya, Le. Maafkan Ibu." Ucap saya berulang kali, sembari berharap semua ini hanya mimpi.

Kini saya bisa katakan bahwa saya sangat mengerti bagaimana perasaan Ibu saat kehilangan Bina. Amat sangat mengerti. Rasanya ingin sekali memeluk Ibu, menangis bersama, menguatkannya, untuk menggantikan sikap saya yang dulu belum tahu apa-apa.

Jakarta, (3 Maret 2020) 17 hari setelah kepergian Seguni.

Inner-Child yang Terluka

Ilustrasi Depresi/Credit: Kathrin Honesta Ilustration

Semalam, saya ngobrol panjang dengan seorang teman lewat chat whatsapp. Dia bercerita bahwa belum lama ini dirinya menemui seorang psikiater. Menjalani serangkaian tes, wawancara, konsultasi, lalu berujung pada diagnosis awal; Borderline Personality Disorder.

Buat yang belum tahu, Borderline Personality Disorder (BPD) atau dikenal juga dengan istilah kepribadian ambang merupakan kondisi psikologis dimana seseorang kesulitan dalam mengendalikan emosinya. Menurut beberapa artikel yang saya baca, pada umumnya kondisi ini ditandai dengan perubahan mood yang mendadak, gangguan pola pikir dan persepsi (seperti tiba-tiba merasa dirinya buruk, tidak percaya diri, atau muncul ketakutan-ketakutan akan diabaikan), dan kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain. Pada tahap tertentu, BPD dapat memicu perilaku impulsif berupa tindakan ceroboh atau bahkan percobaan bunuh diri.

Hati ini rasanya mak-deg!
Bukan karena penjabaran dari diagnosis BPD itu sendiri, tapi lebih kepada keputusan teman saya untuk menemui seorang psikiater. Bagi saya, keputusannya itu serupa tanda bahwa kondisi mentalnya memang sudah sedemikian "sulit" untuk ditanganinya seorang diri.

Ngeri ya.
Kita memang tidak pernah tahu apa yang ada di dalam diri orang lain. Teman saya itu, kalau kamu bertemu langsung dengannya, kamu akan sependapat bahwa dia adalah seorang wanita yang tampak selalu bahagia. Dia senang bercanda, dan selalu menjadi yang pertama datang menyapa. Apapun yang diucapkannya selalu sukses membuat kami tertawa. Tidak ada yang akan mengira bahwa jauh di dalam dirinya, ada amarah, kesedihan, kekecewaan, kegelisahan, yang menumpuk tanpa pernah tuntas tersalurkan. Yang kemudian membuat emosinya meledak-ledak hanya karena satu percikan.

Pernah suatu ketika, dia bercerita tentang emosi negatifnya di masa lalu, yang bersumber dari kemarahannya kepada orangtua, terutama ibunya. Di waktu kecil, tuturnya, dia adalah sasaran amarah sang ibu yang jet lag karena perubahan rutinitas dari wanita karir menjadi IRT dan harus tinggal di pedalaman gunung. Ibunya stress berat saat itu, dan melampiaskan segala kecamuk itu padanya. Beranjak remaja, dia sering merasa tertekan dengan pola didik orangtuanya yang terlampau keras, sementara pola yang sama tidak berlaku untuk adik-adiknya. Apa yang dia sukai tidak pernah diterima oleh orangtuanya, dan setiap keputusan yang diambilnya kemudian hanyalah jalan untuk memuaskan ego mereka.

Masalah berlanjut ketika dia menikah dan kemudian hamil. Proses persalinannya menyisakan trauma mendalam. Baby blues pun tak terhindarkan. Yang kemudian menjadi penyesalan hingga kini adalah bahwa air susunya tidak keluar di awal kelahiran bayinya, dan tidak ada seorangpun yang bisa dia tanyai perihal solusi. Bayinya kemudian tumbuh menjadi--meminjam istilah teman saya itu--"anak sapi", yang hanya minum susu formula tanpa mengenal ASI.

Puncak dari semuanya adalah dia harus menjalani kuret karena kehamilan keduanya dinyatakan tidak berkembang (Blighted Ovum), beberapa bulan yang lalu.

Ilustrasi Depresi/Credit: 2017 | DestinyBlue

Kalau boleh saya simpulkan, teman saya itu belum selesai dengan masa lalunya, tapi tidak menyadari hal itu dan tetap melanjutkan langkah dengan mengambil peran dan tanggung jawab baru di setiap jengkalnya. Beban bertumpuk, mengendapkan emosi buruk. Saya yakin banyak dari kita mengalami hal serupa, termasuk saya. Ya, saya juga.

Kenangan buruk di masa lalu memang bukan sesuatu yang remeh. Sebab, pengalaman-pengalaman itulah yang turut membentuk diri kita hari ini. Kalau ternyata penggalan-penggalan kejadian itu mempengaruhi laju kehidupan kita sekarang, ya harus "diselesaikan". Dan teman saya tadi masih dalam perjalanan menuju proses "penyelesaian".

Saya menghela napas.
Rasanya ingin juga segera "menyelesaikan" perkara ini. Tidak banyak yang tahu bahwa saya mengalami masa-masa sulit saat harus beradaptasi dengan status baru sebagai istri, lalu ibu. Sesuatu bernama "inner child yang terluka"--yang baru saya sadari keberadaannya setelah menikah--ini cukup berpengaruh buruk terhadap pola asuh saya kepada Arslan. Mati-matian saya berusaha mengatasi efek destruktif dari luka ini, sendirian. Saya pernah mencoba menyembuhkan luka ini dengan membuat lifeline, menarik kembali kejadian-kejadian menyakitkan di masa lalu untuk kemudian dibedah lalu dimaafkan, tapi gagal (tentang itu sudah pernah saya tuliskan di sini). Dan saya kembali menjadi pribadi dengan inner child yang rapuh. Sampai pada satu titik, saya merasa tidak berguna, sepi, asing. Bayangkan, kamu sedang berkumpul bersama keluarga dan semua orang di sana saling ngobrol seru sambil tertawa lepas, tetapi kamu mendadak sedih dan kalut. Kamu bertanya-tanya mengapa kamu tidak bisa menikmati suasana seperti yang lain?

Saya pernah berada di titik itu. Rasanya menakutkan. Kenapa saya jadi seperti ini? Tapi saat itu saya langsung tahu bahwa yang saya butuhkan hanyalah self-awareness. Kesadaran untuk menerima segala kondisi diri saya, lalu terbuka untuk menceritakannya pada orang yang tepat. Dan orang itu; suami saya.

Meskipun pada awalnya suami saya terus-terusan berkata, "Itu hanya perasaanmu saja," tapi lambat laun belio menyadari bahwa yang perlu belio lakukan adalah memberikan rasa aman dan mengakomodasi saya untuk lebih produktif berkarya, agar kepercayaan diri saya meningkat. (Baca postingan saya tentang "menjalin komunikasi yang sehat dengan suami" di sini.)

Nah, nanti, kalau ada seseorang datang kepadamu mengatakan bahwa dirinya cemas berlebihan, tolong dirangkul. Kalau kamu ga bisa, maka bantu dia mendatangi orang yang tepat. Bantu dia mengatasi lukanya. Jangan malah meninggalkan luka baru dengan komentar menyakitkan, "Halah, hidup kok dibikin ribet sendiri." Atau, "Makanya, cari kegiatan di luar. Biar ga baperan."

Asal kamu tahu, itu tidak menyembuhkan.