Cerita tentang Bapak selalu menjadi hal yang paling menguras emosi. Bagi saya, Bapak selalu menjadi tokoh utama yang ingin saya buat bahagia. Mungkin di kehidupan dewasa ini, banyak hal terlewatkan untuk mewujudkannya, tapi semoga suatu saat kesempatan itu datang kepada saya.
BBapak sering sekali bercerita tentang pengalaman-pengalaman beliau ketika mencari nafkah. Pernah suatu hari, ketika kami sedang bercengkerama di pawon rumah sembari membantu Ibu berjualan, Bapak bercerita…Baru mendengar bagian pembukanya saja, mata saya sudah mbrambang, basah oleh air yang susah payah ditahan.
Penumpang yang bapak bawa sore itu minta diantar sampai ke rumah. Dan rumahnya ada di sebuah perkampungan padat di daerah Kandang Panjang dengan jalanan yang sangat sempit yang berbatasan langsung dengan empang tanpa penutup. Saking sempitnya, jalanan di kampung itu hanya bisa dilewati 1 becak. Jadi, kalau ada satu saja pengendara sepeda dari arah berlawanan, maka dia harus mau mengalah dengan melipir ke teras rumah orang.
Tapi sepertinya sore itu bapak sedang sial. Beberapa puluh meter di depannya, ada motor mendekat. Rumah penumpangnya sudah dekat, tapi bapak tidak punya cara untuk membuat pengendara motor itu berhenti sejenak. Bunyi bel becak yang kring-kring itu tak mampu mengalahkan bising hujan. Berteriak pun percuma.
Jadi, secara reflek bapak sedikit membelokkan setir becaknya ke arah empang, agar tidak bertabrakan dengan motor tadi. Tapi, seperti yang sering terjadi dalam kehidupan dimana kita yang niatnya mau menghindar justru terperosok, begitu pulalah bapak, di sore yang basah itu.
Satu roda becaknya tergelincir dan anjlok ke empang, membuat badan becaknya ambruk ke depan. Bapak kaget, penumpangnya lebih kaget lagi. Mereka adalah seorang ibu muda dan anak balitanya. Segera setelah becak Bapak anjlok, anak balita itu menangis meraung-raung. Antara kaget dan takut.
Bapak tergopoh-gopoh turun dari sadelnya untuk menjelaskan kepada penumpangnya. Tapi bahkan sebelum Bapak sempat berkata-kata, seorang laki-laki berbadan besar muncul di belakang bapak. Dia, tanpa bertanya apapun, langsung memaki-maki Bapak.
Dalam hidup, selalu saja ada orang seperti ini. Yang bertindak tanpa bertanya, yang bereaksi tanpa tahu yang sebenarnya terjadi.
Laki-laki berbadan besar tadi hampir saja memukul bapak kalau saja sang istri tidak mencegahnya. Ya, ternyata laki-laki itu adalah suami dari ibu muda yang naik becaknya bapak. Ketika mendengar suara tangis anaknya di tengah deras hujan, laki-laki itu langsung keluar dengan amarah, mengira bapaklah yang menjadi sumber masalah. Seolah sisi heroic-nya akan terluka jika tahu anaknya tersakiti tapi dia tidak melakukan apa-apa.
Ujian bapak belum selesai sampai di situ.
Laki-laki itu menolak membayar Bapak atas jasanya mengantarkan istri dan anaknya pulang, dia juga melarang istrinya menyerahkan uang. Mungkin baginya, itu adalah balasan karena Bapak tidak becus mengemudikan becak. Setelah memaki-maki dan menyumpah-serapahi bapak, laki-laki itu menggendong anaknya dan mengajak keluarga kecilnya masuk ke rumah. Bapak, hanya bisa terdiam, lalu pelan-pelan mengangkat roda becaknya, sendirian. Katanya, sambil tersenyum kecut, beliau sempat membatin, "Ya Gustiii, gini amat cari uang."
Siapa coba yang nggak nangis mendengar cerita itu langsung dari Bapak? Meskipun bapak menceritakannya sambil tertawa, tapi hawa melankolis dari atmosfer ceritanya sangat terasa. Getir pada suaranya menyisakan rasa sesak di dada. Dan itu adalah cerita yang tidak pernah bisa direspon dengan biasa saja. Darinya, saya jadi tahu bahwa kami dibesarkan dengan penuh perjuangan.
Untungnya, cerita yang Bapak sampaikan tadi tidak berakhir mengecewakan. Setelah Bapak selesai membetulkan posisi becaknya dengan susah payah, (asli, ngangkat sebelah roda becak sendirian itu nggak mudah loh!), perempuan tadi memanggilnya. Ternyata, sementara Bapak sibuk mengangkat roda becaknya, perempuan itu menjelaskan kepada suaminya kronologi kejadian sampai becak Bapak anjlok. Dan itu bukan salah Bapak. Anak mereka juga tidak terluka sama sekali. Hanya kaget. Jadi, tidak seharusnya sang suami memperlakukan bapak seperti itu. Bapak diminta masuk ke dalam rumah untuk berteduh, diberikan baju kering untuk ganti, dan dibuatkan teh hangat. Bapak juga dibayar sebagai mana mestinya.
Syukurlah, semesta masih berpihak kepada Bapak. Hujan sore itu mungkin telah menimbulkan sebuah petaka, tapi di balik itu, ada berkah yang terselip, yang tanpa keluasan hati seperti yang Bapak punya, orang bisa saja hanya mengingat buruknya. Tapi Bapak... Bapak selalu punya cara untuk tidak mendekap luka terlalu lama, dan hanya mengingat hal-hal baik, untuk diceritakan lagi dengan tawa.
Siapa orang yang paling memahamimu saat kamu sedang mati-matian beradaptasi menjadi ibu baru?
Setelah proses panjang persalinan yang meremukkan badan, yang saya hadapi kemudian bukanlah keleluasaan untuk bersantai tanpa gangguan, melainkan perjuangan untuk menyesuaikan mental dengan tugas-tugas baru; menyusui tanpa henti, menggendong tanpa jeda, memastikan manusia kecil itu tercukupi kebutuhannya—sambil menahan sakit, antara lecet pada puting dan jahitan berlapis di kemaluan.
Menurutmu, siapa yang paling bisa memahami di fase penting itu?
Jawaban saya adalah ibu.
Ibu saya.
Hanya ibu saya.
Sekalipun, perlu kamu tahu, saya tidak pernah dekat dengan ibu.
***
Sejak saya bisa mengingat, saya memang cenderung lebih dekat kepada Bapak. Beberapa tulisan yang saya posting entah di facebook maupun blog, adalah hasil obrolan kami sehari-hari. Sementara Ibuk jarang sekali mengajak saya bicara, apalagi bercerita tentang hal-hal lucu yang pernah dialaminya. Kalimat-kalimat yang terlontar dari Ibuk seringkali hanya berupa perintah-perintah, atau kalimat tanya tentang letak suatu benda yang tengah dia cari.
Banyak orang bilang, dibandingkan dengan kakak dan adik-adik saya, sayalah yang paling mirip dengan Ibuk. Baik fisik maupun wataknya. Mungkin itu jugalah yang menjadikan kami bagai dua kutub magnet yang sama, yang saling menolak jika didekatkan. Ibuk melihat kekurangan dirinya ada pada saya, dan saya, anaknya yang kurangajar ini, dengan angkuhnya menganggap Ibuk "terlalu begini, terlalu begitu" padahal sejatinya saya sedang menilai diri sendiri.
Hampir tidak ada moment dimana saya dan Ibuk terlihat duduk berdua saja sampai lebih dari lima menit, kecuali salah satu dari kami beranjak lebih dulu. Itu pun hanya duduk, tanpa ada sepatah kata yang keluar. Berbeda ketika ada adik atau kakak saya di sana, yang lebih bisa mencairkan suasana dengan obrolan ngalor-ngidul dan mendapat respon apik dari Ibuk.
Sampai saya lulus kuliah, kecanggungan ini masih terus terpelihara. Bahkan sampai akhirnya saya menikah. Tidak ada petuah-petuah intim antara seorang Ibu dengan anak perempuannya yang sebentar lagi akan menjadi istri. Tidak ada nasehat-nasehat. Tidak ada basa-basi semisal "Apakah kamu gugup?" atau yang lainnya. Ingin rasanya saya bertanya, "Buk, aku harus bagaimana nantinya?" ketika pada satu titik, saya dilanda kebingungan hebat akibat syndrome pranikah. Tapi tidak saya tanyakan. Sebab canggung.
Di hari pernikahan pun, ketika ada prosesi sungkem kepada kedua orang tua, dimana biasanya orang tua akan membisikkan sedikit nasehat atau doa di telinga pengantin, Ibuk tidak melakukannya. Sungguh stay cool sekali Ibuk saya itu.
Tapi semua sikap dingin itu, sikap cuek yang ditampakkannya selama ini, tidak saya lihat pada hari keberangkatan saya ke Ternate. Sepanjang perjalanan sampai di bandara, mata Ibuk sembab. Bapak menyuruh saya mendekati Ibuk (Ya Gusti, mau mendekati Ibuknya sendiri saja kok pake disuruh segala), dan menanyakan keadaannya. Saya manut.
"Ibuk kenapa, Buk?" Tanya saya begitu duduk di samping Ibuk. Sungguh anak yang tidak pandai berbasa-basi.
"Rapopo. Kelilipan." Jawab Ibuk pelan.
"Oh." Saya menanggapi singkat. Padahal saya tahu, semalam Ibuk tidak bisa tidur, dan beberapa hari terakhir Ibuk juga tidak enak badan karena memikirkan anaknya yang mau pergi jauh. Bapak yang mengatakannya pada saya, beberapa saat sebelum dia menyuruh saya mendekati Ibuk.
Satu detik pertama, saya sebal pada Ibuk yang tidak mau jujur bahwa dia kepikiran soal saya. Detik berikutnya, saya yang tidak kuat menahan emosi. Saya memeluk Ibuk. Kemudian menangis.
"Maafin aku ya, Buk. Belum bisa ngasih apa-apa, tapi sudah mau pergi." Saya berbisik sesenggukan.
Tangis Ibuk pun pecah. "Rapopo, rapopo. Sak titahe Gusti Allah. Ibuk ngrestui. Rapopo." Begitu katanya, sambil mengelus lengan saya yang melingkar di bahunya. Sesekali mengusap air mata dengan ujung jilbabnya.
Barangkali itulah kali pertama saya memeluknya dengan sadar. Sebelum kemudian kami tidak bertemu lagi hampir lima bulan.
Ternate,
Diketik dengan mata berlinang, bertahun-tahun lalu.