Tampilkan postingan dengan label Sisa Obrolan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sisa Obrolan. Tampilkan semua postingan

Sore itu, aku dan Embah Kakung duduk berdua di bawah rindang pohon belimbing. Menikmati semilir angin yang bertiup melewati celah-celah atap rumah kampung.

"Mbah, mpun mirsani berita?" Tanyaku sambil mengayun-ayunkan kaki yang tak menapak tanah. Sok imut. "Terose harga BBM naik." Lanjutku pelan.

Embah hanya bergumam tanda mengiyakan.

"Pendapate Mbah Di, pripun?" Mbah Di adalah panggilan akrab Embahku yang ganteng itu.

"Yo rapopo. Wong memang kudu mundak." Jawabnya cool.

"Mbah Di mboten sebel kalih pemerintah?"

"Nggo opo." Kata Embah singkat. "Mundahke BBM kuwi sesuatu sing sifate bakal (akan) lan kudu (harus). Nek ora dino iki, yo ngesuk. Ora bakal orak. Tinggal rakyate bae sing siap nrimo opo milih nggresulo."

Aku manggut-manggut. Beberapa ekor burung melintas di atas kepala kami.

"Regi sayuran, beras, kalih bumbu pawon ugi mundak, Mbah." Lagi-lagi aku memprovokasi.

"Kuwi jenenge efek samping. Ibarat ngombe CTM (Chlorpeniramine Maleat, anti alergi yang biasa digunakan sebagai pelengkap dalam pengobatan influenza), kowe mesti ngantuk. Kuwi efek samping."

"Tapi Mbah Di kan mboten nitih motor, mboten nate tumbas bensin nopo solar, tapi ngraosaken susah margi regi2 bahan pangan nderek awis. Ibarate niku mboten ngunjuk obat CTM tapi kok kenging efek sampinge uga?" Tanyaku panjang lebar.

Dengan kalemnya Embah menanggapi, "Sing diobati kuwi Indonesia. Kowe rakyat Indonesia opo dudu?"

Aku buru-buru mengangguk.

"Nha yowes. Kelar urusane."

Aku tersenyum simpul.
Dan sisa sore itu kami habiskan dengan obrolan ringan tentang rindu pada sanak saudara yang tinggal di kota orang.

Pekalongan, 19 November 2014
Sejak saya bisa mengingat, saya memang cenderung lebih dekat kepada Bapak. Beberapa tulisan yang saya posting entah di facebook maupun blog, adalah hasil obrolan kami sehari-hari. Sementara Ibuk jarang sekali mengajak saya bicara, apalagi bercerita tentang hal-hal lucu yang pernah dialaminya. Kalimat-kalimat yang terlontar dari Ibuk seringkali hanya berupa perintah-perintah, atau kalimat tanya tentang letak suatu benda yang tengah dia cari.

Banyak orang bilang, dibandingkan dengan kakak dan adik-adik saya, sayalah yang paling mirip dengan Ibuk. Baik fisik maupun wataknya. Mungkin itu jugalah yang menjadikan kami bagai dua kutub magnet yang sama, yang saling menolak jika didekatkan. Ibuk melihat kekurangan dirinya ada pada saya, dan saya, anaknya yang kurangajar ini, dengan angkuhnya menganggap Ibuk "terlalu begini, terlalu begitu" padahal sejatinya saya sedang menilai diri sendiri.

Hampir tidak ada moment dimana saya dan Ibuk terlihat duduk berdua saja sampai lebih dari lima menit, kecuali salah satu dari kami beranjak lebih dulu. Itu pun hanya duduk, tanpa ada sepatah kata yang keluar. Berbeda ketika ada adik atau kakak saya di sana, yang lebih bisa mencairkan suasana dengan obrolan ngalor-ngidul dan mendapat respon apik dari Ibuk.

Sampai saya lulus kuliah, kecanggungan ini masih terus terpelihara. Bahkan sampai akhirnya saya menikah. Tidak ada petuah-petuah intim antara seorang Ibu dengan anak perempuannya yang sebentar lagi akan menjadi istri. Tidak ada nasehat-nasehat. Tidak ada basa-basi semisal "Apakah kamu gugup?" atau yang lainnya. Ingin rasanya saya bertanya, "Buk, aku harus bagaimana nantinya?" ketika pada satu titik, saya dilanda kebingungan hebat akibat syndrome pranikah. Tapi tidak saya tanyakan. Sebab canggung.

Di hari pernikahan pun, ketika ada prosesi sungkem kepada kedua orang tua, dimana biasanya orang tua akan membisikkan sedikit nasehat atau doa di telinga pengantin, Ibuk tidak melakukannya. Sungguh stay cool sekali Ibuk saya itu.

Tapi semua sikap dingin itu, sikap cuek yang ditampakkannya selama ini, tidak saya lihat pada hari keberangkatan saya ke Ternate. Sepanjang perjalanan sampai di bandara, mata Ibuk sembab. Bapak menyuruh saya mendekati Ibuk (Ya Gusti, mau mendekati Ibuknya sendiri saja kok pake disuruh segala), dan menanyakan keadaannya. Saya manut.

"Ibuk kenapa, Buk?" Tanya saya begitu duduk di samping Ibuk. Sungguh anak yang tidak pandai berbasa-basi.

"Rapopo. Kelilipan." Jawab Ibuk pelan.

"Oh." Saya menanggapi singkat. Padahal saya tahu, semalam Ibuk tidak bisa tidur, dan beberapa hari terakhir Ibuk juga tidak enak badan karena memikirkan anaknya yang mau pergi jauh. Bapak yang mengatakannya pada saya, beberapa saat sebelum dia menyuruh saya mendekati Ibuk.

Satu detik pertama, saya sebal pada Ibuk yang tidak mau jujur bahwa dia kepikiran soal saya. Detik berikutnya, saya yang tidak kuat menahan emosi. Saya memeluk Ibuk. Kemudian menangis.

"Maafin aku ya, Buk. Belum bisa ngasih apa-apa, tapi sudah mau pergi." Saya berbisik sesenggukan.

Tangis Ibuk pun pecah. "Rapopo, rapopo. Sak titahe Gusti Allah. Ibuk ngrestui. Rapopo." Begitu katanya, sambil mengelus lengan saya yang melingkar di bahunya. Sesekali mengusap air mata dengan ujung jilbabnya.

Barangkali itulah kali pertama saya memeluknya dengan sadar. Setelah kemudian kami tidak bertemu lagi hampir lima bulan.


Ternate, 22 Desember 2016



Pucuk Merah dan Bagaimana Rasanya Menjadi Orang Tua

Beberapa hari setelah menginjakkan kaki di tanah timur, kami menyempatkan diri mampir ke salah satu lapak penjual tanaman di pinggiran jalan yang saya lupa namanya. (Nanti saya tanyakan ke suami saya deh ya! 😉) Kami membeli beberapa jenis. Salah satunya adalah tanaman pucuk merah.

Suami saya sudah naksir pada tanaman ini sejak kami melihatnya di sepanjang perjalanan menuju Dataran Tinggi Dieng. Di lereng-lereng bukit dekat pemukiman, pucuk merah tumbuh menjulang menjadi pohon yang rindang dan indah dipandang. Kombinasi warna hijau yang lebat dengan sedikit sentuhan merah di bagian pucuk, serta coklat tua pada batang dan rantingnya, membuat tanaman ini tampak eksotis, dan membawa penikmatnya pada baur suasana musim semi. Jika Jepang punya sakura, saya kira bolehlah Indonesia mengklaim pucuk merah sebagai salah satu ikonnya.

Berdasarkan informasi yang kami dapat dari ibu penjual, pucuk merah merupakan tanaman yang tidak memerlukan perawatan khusus, apalagi perhatian berlebih seperti kamu (eh). Cukup diletakkan di tempat yang terkena panas mentari dan disirami setiap pagi/sore hari. Sudah. Selebihnya, mungkin perlu dilakukan pemangkasan daun yang sudah mati secara berkala, minimal 2 minggu sekali. Itu saja.

"Tidak merepotkan." Kata si ibu.

Saya menoleh ke suami, lalu berkata lirih sambil tersenyum manis, "Kayak aku ya, Mas."

Mendengar itu, suami saya membentuk bibirnya sedemikian rupa, lalu menimbulkan bunyi seperti kentut dari sana. Seolah dengan ekspresi begitu, dia sedang mengucapkan, "Pret!"

Oke, fine~ 😪

Kami pulang dengan pucuk merah dalam gendongan.

Dua minggu berlalu. Pucuk merah kami tumbuh dengan lebatnya, bak seorang gadis yang sedang mekar. Tunas-tunas baru yang berwarna merah selalu tumbuh di ujung-ujung ranting, membesar, dan perlahan berubah warna menjadi hijau muda, lalu hijau tua, untuk kemudian menua dan mati. Ketika itulah daun yang sudah mati perlu dipangkas, agar bekas pangkasnya menjadi tempat bagi tunas-tunas baru untuk tumbuh. Lalu membesar lagi, dan mati.

Begitulah siklus hidup pucuk merah, Dik.

Begitu pulalah siklus hidup manusia. Yang pergi akan terganti. Meski tidak selalu sama. Meski kamu--mungkin--butuh waktu yang tidak sebentar untuk mendapatinya sebagai pengganti yang lebih sempurna. Tidak apa-apa, semua butuh waktu. Iki opo?

Kami menikmati setiap detik pertumbuhan si pucuk merah. Layaknya sepasang orang tua yang menyaksikan perkembangan anaknya. Setiap pagi dan sore, kami menyempatkan ngobrol di teras rumah sembari memerhatikan pucuk merah yang terkadang menari-nari diterpa angin.

Sampai suatu ketika, di sore yang cukup cerah, setelah terbangun dari tidur siang yang menyenangkan, saya mendapati pucuk merah kami rusak entah oleh apa. Banyak daunnya menghilang, dan beberapa di antaranya "krowak" seperti dipetik paksa atau dimakan binatang secara terburu-buru, sehingga patah dengan tidak sempurna.

Saya sedih bukan main. Begitu pun suami saya.

Dan kesedihan kami bertambah ketika beberapa minggu setelahnya, saat daun-daun pucuk merah mulai bangkit dari keterpurukan, mulai move on, dan tumbuh lebat sebagaimana sebelumnya, sesuatu kembali menyerangnya. Kali ini lebih parah. Yang tersisa hanya beberapa helai daun, dengan "krowak" di sana-sini, juga kulit batang yang mengelupas di banyak sisi. Dia jadi lebih mirip tanaman gundul menjelang tandus, daripada pucuk merah yang kami beli dua bulan lalu.

Kami ngomel-ngomel.

Meski tak bisa disamakan dengan merawat anak, tapi kami sepakat bahwa merawat tanaman bisa sedikit merefleksikan itu. Keduanya sama-sama membutuhkan kesabaran, ketelatenan, rasa memiliki, dan curahan kasih sayang yang tulus. Sehingga kami belajar.

Dengan kejadian ini, dengan rusaknya pucuk merah kesayangan kami, saya jadi tahu, bagaimana marahnya-sedihnya-kecewanya-hancurnya menjadi ibu dari anak gadis yang kamu sakiti berkali-kali. Atau dari anak laki yang kamu PHP-in tanpa henti.

Jadi plis, ojo maneh-maneh "dolanan" anake wong! :3

Ternate, 17 Oktober 2016

Kalau ada yang mengatakan bahwa membuka pintu rumah lebar-lebar pada pagi hari akan membawa kelancaran rezeki bagi penghuninya, barangkali itu tidak berlaku di sini.

Membukakan pintu untuk melepas kepergian suami menuju tempatnya bekerja sudah pasti mendatangkan rezeki. Tetapi kalau pintu itu dibiarkan terbuka seterusnya, maka akan kamu dapati tamu-tamu tak diundang yang alih-alih membawa rezeki, justru meminta sedikit bagian darimu.

Kemarin, menjelang siang saat saya tengah asyik berendam bersama cucian, seseorang tiba-tiba saja nyelonong masuk ke dalam rumah dan mengucapkan salam. Saya kaget bukan main. Mungkin saya lupa menutup pintu, mungkin juga tamu itu yang terlampau percaya diri untuk masuk tanpa permisi. Saya segera bangkit dari rendaman, melongok keluar, dan mendapati bocah laki-laki sekitar sebelas tahun, agak lusuh, datang menenteng map merah muda berisi kertas-kertas.

"Kamu kok masuk tanpa permisi sih?" Itulah kalimat pertama yang saya ucapkan setelah menjawab salam. Benar-benar tuan rumah yang ramah, bukan? 😌

"Maaf kaka, pintunya terbuka sedikik, saya..."

Bocah itu tidak melanjutkannya, sebab saya telah lebih dulu memotong kalimatnya dengan sebuah pertanyaan singkat, "Ada apa?"

"Begini kaka, saya mau minta dana."

"Dana?" Saya mengernyitkan dahi. "Dana buat apa?"

Dan jawabannya kemudian membuat saya termangu.

"Balapan, kaka."

Di saat para mainstream peminta-minta di ibu kota mengatasnamakan pembangunan masjid atau pondok pesantren tertentu sebagai kedok mereka dalam menjalankan rutinitasnya, bocah laki-laki di depan saya ini dengan sangat terbuka justru mengatakan ingin meminta dana untuk balapan. Jujur sekali kamu, Dik.

Tapi sayang, saya tidak memandang aktivitas balapannya itu sebagai sesuatu yang bermanfaat. Andaikan, andaikan saja, dia datang dengan permohonan bantuan dana untuk mendirikan sebuah taman baca, misalnya, atau untuk pengadaan obat di balai pengobatan setempat, mungkin saya akan memberikan beberapa lembar rupiah saat itu juga. Sekalipun saya belum meminta izin kepada suami. Tapi, sayang. Amat disayangkan, saya bukan penggemar balapan. Kecuali, balapan memenangkan hati perempuan. Dan lagi-lagi sangat disayangkan, karena hati saya sudah dimenangkan seseorang. Iki jan suwe-suwe ragenah.

Hari berganti...
Tadi pagi, sekitar pukul sembilan Waktu Indonesia begian Ternate, kembali ketika saya tengah khusyuk mencumbui cucian, terdengar seseorang mengucapkan salam di depan rumah. Saya menjawabnya dengan penuh penyesalan karena lupa menutup pintu (lagi-lagi).

Tamu saya hari ini adalah seorang wanita paruh baya--tidak saya sebut sebagai nenek-nenek karena saya tidak tahu apakah dia punya cucu atau tidak--yang berpakaian baik. Saya belum mengatakan apa-apa ketika tiba-tiba dia melepas sandal jepitnya dan naik ke lantai teras rumah. Menciptakan becek coklat yang kotor sebab pagi ini hujan turun agak deras.

Saya akan maklum, jika alasannya naik ke teras tanpa saya persilakan adalah untuk berteduh. Tapi dia datang di saat hujan telah reda, dan langit mulai menampakkan cerahnya. Hujan yang turun sedari pagi hanya menyisakan basah di aspal-aspal jalanan. Tidak lebih. Maka untuk alasan apakah wanita itu merapat ke pintu rumah saya? Itu yang jadi pe-er bersama.

Dia terdengar mengucapkan sesuatu dengan cepat, menggunakan bahasa lokal yang saya tidak tahu apa maksudnya. Saya hanya mendengar satu kata yang saya mengerti: "sapu".

"Sapu?" Saya mengulangi satu kata itu.

Saya pikir, wanita ini datang untuk menawarkan sapu. Tapi saya tidak melihat apapun dari barang bawaanya yang bisa disebut sapu, kecuali tas jinjing berwarna coklat muda yang cukup pantas dibawa ke kondangan mantan.

"Boleh?" Tanyanya. Dan saya masih tidak mengerti mengapa dia bertanya seperti itu.

Seperti membaca raut kebingungan dalam air muka saya, wanita itu mengulangi kembali kalimatnya tentang sapu. Kali ini dengan kata-kata yang lebih mudah dicerna telinga. Dan saya pun mengerti. Dia menawarkan dirinya untuk menyapu pelataran rumah (sepetak tanah terbuka di luar teras yang terdiri dari susunan batako-batako merah selebar dua meter) dengan imbalan uang sepuluh ribu.

Belum pernah saya temui yang model begini di kampung halaman saya. Dan saya takjub.

Tapi lagi-lagi, saya tidak melihat adanya kotoran atau sampah-sampah remeh di pelataran rumah. Jadi saya tidak memandang perlu untuk menerima jasa menyapu. Yang ada hanya basah. Basah. Ingin rasanya saya menawarkan pilihan kepada wanita itu untuk mengeringkannya saja, karena basah, tapi tentu itu humor yang buruk sekali.

Jadi, saya diam saja.

Ini semua terjadi, tak lain dan tak bukan karena kebiasaan saya membiarkan pintu rumah terbuka sepanjang hari. Bukan berarti hal ini tidak baik. Hanya saja di sini, ada banyak tamu yang kelewat menakjubkan untuk ditemui setiap harinya. Dan kamu tahu, menjumpai tamu asing itu tidak selalu mengasyikkan, terutama saat kamu sedang hamil muda. 😌

Sekarang saya tahu, kenapa pintu-pintu di rumah penduduk lokal itu senantiasa tertutup.

Perkara saya jadi memberikan uang sepuluh ribu kepada wanita itu atau tidak, tidak perlu saya ceritakan. Kalau saya mengatakan "iya" nanti terkesan riya', kalau "tidak" pasti terkesan pelit.

Begitulah hidup. Dipenuhi kesan-kesan.

Ternate, 23 September 2016
Dua bulan kemudian ...

"Arep melu ora?" Tanyanya.

"Hmm..?" Saya bergumam. Seolah ingin memastikan apa yang baru saja saya dengar.

"Arep melu rene ora?" Ulangnya.

Saya terdiam sejenak.

Sekalipun saya merasa sangat siap untuk mengikuti suami saya--ehem, nanti setelah menikah, maksudnya--ke daerah tempatnya bekerja di Ternate sana, tetap saja ada kegugupan ketika dimintai kepastian seperti itu.

"Mau ikut ke sini, nggak?" Begitu tanyanya.

Saya tahu, (calon) suami saya itu hanya ingin memastikan bahwa saya mantap dan ridlo untuk ikut dengannya, mendampinginya, mengabdi padanya. Tapi pertanyaan itu memaksa saya berpikir ulang, apakah saya benar-benar siap melesat jauh meninggalkan Pekalongan dalam waktu yang tidak sebentar. Ada bimbang yang menyapa. Ada ragu dalam sendu. Dan setitik kegundahan itu nyata menggoyahkan kemantapan yang saya bangun selama ini.

Saya tidak pernah menetap di suatu kota di luar Pekalongan dalam waktu yang cukup lama. Saya terlahir, tumbuh, dan terlanjur mendewasa di kota ini. Akan menjadi situasi yang sulit bagi saya jika tiba-tiba diajak pergi dan tinggal di luar pulau yang berkilo-kilometer jauhnya, sekalipun inilah yang saya idamkan sejak dulu. Bagaimana dengan orang-orang terdekat? Keluarga, teman-teman, partner kerja... Bagaimana jika saya merindukan mereka? Terlebih lagi, bagaimana dengan pekerjaan saya?
Saya bekerja di RSUD Bendan, sebuah rumah sakit milik pemerintah kota Pekalongan yang jaraknya hanya lima menit berkendara dari rumah. Hampir dua tahun lamanya saya menjadi bagian dari rumah sakit ini. Bekerja sama dengan orang-orang hebat, menghadapi berbagai kasus dan pasien baru setiap harinya, belajar, berbagi, untuk kemudian lelah sekaligus bersyukur karenanya.

Bekerja di RSUD Bendan adalah jawaban. Ada dua keyword yang selalu saya sebut ketika mengajukan proposal kerja kepada Tuhan: rumah sakit dan ridlo orang tua. Keinginan saya untuk bekerja di rumah sakit sudah sejak lama saya patenkan. Tidak bisa tidak, setelah lulus kuliah saya harus bisa bekerja di instansi itu. Di manapun tempatnya, yang penting rumah sakit. Maka mulailah surat lamaran saya edarkan ke seluruh penjuru Jawa. Dari utara hingga ke selatan, dari Ibu Kota hingga Daerah Istimewa. Tapi saya lupa, Ibu saya tidak pernah mengizinkan saya bekerja di luar kota. Sampai kemudian saya tergerak memasukkan lamaran ke RSUD Bendan, dan baru saya tahu bahwa rumah sakit inilah yang menjadi titik temu dari dua kata kunci yang saya ajukan pada Tuhan.
Dan sekarang, dalam beberapa bulan ke depan saya akan menikah dan dihadapkan pada opsi untuk meninggalkan pekerjaan demi ngabdi pada suami.

***

"Arep melu rene ora?" Ulangnya.

Saya terdiam sejenak.

Untuk beberapa hal, saya memang ragu. Tapi kepada laki-laki ini, saya tidak pernah memiliki secuil pun keraguan. Saya percaya bahwa dialah masa depan saya. Dan bersamanyalah saya akan menghabiskan sisa hidup saya dengan berbagai macam kebahagiaan.

"Mas pingine pripun?" Tanya saya akhirnya.

"Yo melu lah." Jawab suara di seberang sana, mantap. "Nggo opo adoh-adohan."

Saya tersenyum mendengarnya. Kemudian menjawab, tak kalah mantap, "Nggih mpun, aku melu."


*lanjutan dari Esai berjudul ARTIKEL TENTANG TERNATE

Tentang Lokalisasi

Ilustrasi PSK (Photo agenda18.web)


Empat tahun yang lalu, mendekati akhir semester tiga perkuliahan, seorang teman, Yuli namanya, bertanya pada saya, "Uf, kowe setuju rak karo lokalisasi?" (Uf, kamu setuju nggak dengan adanya lokalisasi?)

Lokalisasi yang dimaksud adalah praktik prostitusi dalam batas wilayah tertentu. Saya agak lupa, tapi sepertinya kami tidak sedang mendapat tugas kuliah tentang lokalisasi, pada waktu itu. Saya sendiri agak heran mengapa tiba-tiba Yuli bertanya begitu. Mungkin dia baru membaca semacam artikel atau apa, sehingga menanyakan pendapat teman-temannya.

Saya diam sejenak. Kemudian balik bertanya, "Dari segi apa dulu?" 

"Kesehatan." Jawab Yuli. Dia perempuan, tentu saja. Kampus kami tidak pernah dan tidak akan pernah menerima mahasiswa laki-laki.

"Setuju." Jawab saya kemudian.

Kelopak matanya melebar mendengar jawaban saya, "Alasannya?" 

Saya diam lagi. Saya memang banyak berpikir sebelum menjawab.

"Kamu akan lebih mudah memberikan penkes (Pendidikan/Penyuluhan Kesehatan) ketika sasaranmu jelas." Ucap saya mengeja. Dan sebelum manusia di hadapan saya itu sempat menimpali, saya melanjutkan, "Sasaran itu bisa dibentuk. Katakanlah sasaranmu ibu rumah tangga, maka datangi saja acara-acara yang diikuti IRT seperti arisan PKK atau pengajian kampung. Jika tidak ada, kamu bisa mengumpulkan mereka dengan undangan. Itu prinsip sasaran. Masalahnya, pekerja seks bukanlah suatu profesi, bukan pula status yang mudah diidentifikasi, apalagi sejenis pekerjaan yang tercatat dengan jelas di KTP, yang orang-orang akan bangga mengakuinya. Mengumpulkan mereka dengan membagikan undangan adalah wagu. Kan nggak mungkin tho, kamu mengetuk pintu rumah orang lalu berkata, "Ini undangan untuk para PSK, nanti datang ya, Mbak." Meskipun yang kamu hadapi itu benar-benar PSK, tapi dia tidak akan begitu saja mengakuinya. Sebab dia ada di lingkungan rumah. Bisa-bisa malah kamu digebuki warga sekampung karena dianggap mencemarkan nama baik." Saya menutup penjelasan 'ngawur'' ini dengan tawa. Membayangkan betapa wagunya contoh tindakan yang saya paparkan sendiri.

Yuli manggut-manggut mendengarkan. Seolah-olah ikut membenarkan apa yang saya katakan. 

"Lokalisasi mempermudah proses identifikasi, Yul. Setidaknya begitu." Saya berkata lagi. "Kegiatan preventif seperti penkes penggunaan kondom secara benar, penkes bahaya aborsi, dan lain sebagainya, terlebih lagi yang bersifat kuratif dan rehabilitatif, akan lebih mudah dilaksanakan. Sebab kita tahu sasarannya."

"Hm. Iya ya, Uf."

"Tapi ini cuma argumen ngawur ya, Yul. Dan ini baru satu sudut pandang: kesehatan. Pun masih dipersempit hanya seputar sasaran. Kalau kita mau melihatnya dari sudut pandang lain, misal agama, sosial-ekonomi, atau wisata, sangat mungkin kita akan mendapat jawaban berbeda, bahkan bertolak belakang. Karena prostitusi adalah masalah yang kompleks. Melibatkan banyak bidang, dan faktor-faktor yang saling berpengaruh."

Setelah itu, kami tak pernah lagi membahas topik ini. Sampai.. ramai di media soal ditutupnya Dolly pada 2014 yang lalu, disusul penggusuran Kalijodo hampir dua tahun kemudian. Dan entah bagaimana, saya teringat obrolan dengan Yuli, lalu menuliskannya.
Pernah suatu hari, salah seorang pemuda alim bertuah: "Peganglah teman-temanmu. Biar yang NU tetaplah NU, yang Muhammadiyah tetaplah Muhammadiyah. Jangan lepas dari keduanya."
M. Rojul Mukhlasin namanya. Saat itu, tengah gencar isu tentang masuknya paham-paham radikal ke dalam sanubari para remaja. Sehingga ia mewasiatkan kalimat itu kepada salah satu di antara kami. Kebetulan bukan saya.

Beberapa waktu setelahnya, ketika saya ajak dia duduk santai ngobrolin perkara-perkara embuh yang bergelayut di kepala, dia tersenyum. Lalu di akhir cerita berkata, "NU kuwi opo sih? Muhammadiyah iku opo? Anggap saja keduanya tidak ada, jika hadirnya hanya timbulkan pecah."

Barangkali Bung Rojul ini ingin menyampaikan, bahwa di satu sisi, be a moderat itu penting. Dan identitas kemoderatan terbesar di Indonesia dipegang oleh -setidaknya- NU dan Muhammadiyah. Tetapi jika NU selalu diidentikkan dengan melulu soal qunut, tentang niat yang usholli, sholawatan, yasin-tahlilan, ziarah kubur, dan Muhammadiyah adalah antitesis dari semua itu, lalu diskusi tentang keduanya hanya berujung perang, maka untuk apa moderatmu?

Sampai di sini saya paham; pada tahap tertentu dari sebuah tatanan pendalaman ilmu, kita perlu mengesampingkan perbedaan-perbedaan yang bersifat dzhahir, saat kemunculannya hanya memicu sikap tidak adil.
Hampir semua orang--dalam tiga hari terakhir--mengeluhkan bertumpuknya daging hewan qurban di freezer kulkasnya, juga aneka masakan rumah yang berbahan dasar serba daging. "Mblenger", katanya. Atau dalam istilah yang lebih umum, artinya "mabok". Mabok daging.

Saya, enjoy aja. Ada sate ya saya santap, ada rendang ya saya lahap, dibikin dendeng juga sedap. Saya gitu sih, lebih memilih untuk menikmati apa yang tersaji di hadapan. Ini kan masih dalam suasana Idul Adha, jadi wajar kalau seisi dunia dipenuhi dengan daging qurban. Nanti, beberapa waktu ke depan, ketika stok daging di kulkasmu sudah habis, kamu akan merindukan hari-hari dimana tumpukan daging itu masih berjejal sempit-sempitan, dimana harum aroma prengus selalu tercium ketika kakimu melangkah memasuki rumah, juga hari dimana kamu mendapati Ibumu sering bingung, lalu bertanya, "Dagingnya mau dibikin apa lagi?"

Dan saya, saya bukan tipe orang yang suka merindukan sesuatu yang sebelumnya saya keluhkan. Saya tidak suka menyesal. Jadi, apa yang ada sekarang ini, saya nikmati. Seperti, misalnya, adanya kamu di sisi.
Seperti biasa, obrolan kami melebar kemana-mana. Bermula dari Ikang Fauzi yang hanya menelurkan tiga album musik, Remy Sylado yang karya-karyanya tidak banyak dikenal orang, tiba-tiba saja kami sampai pada diskusi kecil tentang rezim orde baru; Bapak merindukan masa-masa di mana rejeki mudah sekali diraih, sedang saya mengutuk perilaku doyan ngutang yang dilakukan pemerintah sekaligus menggugat narasi sejarah yang banyak dimanipulasi pada masa itu (biar terlihat pintar dan kekirian, eh, kekinian, hahaha).

"Dulu, zamannya Bapak masih semangat-semangatnya mbecak, cari penumpang itu gampang." Katanya, memulai cerita nostalgi tentang masa bertahun silam. "Jalan sebentar, sudah ada yang minta diantar. Selesai mengantar yang satu, calon penumpang yang lain sudah menanti di ujung gang. Serba enak dulu itu, Na. Angkutan umum belum banyak, transportasi pribadi juga masih sangat terbatas. Harga motor mahal sekali. Apalagi mobil. Dan tidak ada sistem kredit. Tidak seperti sekarang. Orang-orang di zaman dulu kalau mau beli motor pasti mikir-mikir dulu. Nabungnya lama." Bapak tertawa sejenak. "Kemana-mana orang lebih memilih naik becak. Pada akhirnya, yang merasa diuntungkan ya tukang becak macam Bapakmu ini. Penumpangnya jadi banyak, rejeki mengalir lancar."

Saya manggut-manggut mendengarkan. "Tapi hutang pemerintahnya kan banyak, Pak." Saya berkomentar.

"Lho hutangnya kan buat kesejahteraan rakyat." Jawab Bapak cepat. "Beras jadi murah, sembako murah, apa-apa serba murah."

"Tapi tidak ada kebebasan berpendapat. Yang sekiranya menunjukkan gelagat kontra, langsung dibungkam. Yang terdengar mengkritik, penjarakan. Lalu karya-karyanya dilarang edar. Yang salah siapa, yang dihukum yang mana. Apaan."

"Ya itulah." Bapak berkata dengan nada kebapakan. Yaiyalah, wong sudah bapak-bapak. Kalo ibu-ibu ya pasti keibuan. Heuheu. "Kalau bicara demokrasi, bicara kebebasan, keadilan hukum, zaman sekarang memang lebih baik. Lebih manusiawi." Katanya. "Tapi kalau kamu bicara soal kemakmuran, percaya deh, Bapak jadi saksinya; zamannya Pak Harto jauh lebih makmur."

Saya diam.

Dilahirkan pada tahun 1992 dan sudah harus berhadapan dengan krisis moneter saat otak belum sepenuhnya mengerti, adalah alasan mengapa saya merasa tidak memiliki perbandingan apa-apa untuk menyanggah argumen Bapak. Jadi saya diam.

Tapi, berkat bapak saya mendapat jawaban, mengapa di bagian belakang truk-truk pengangkut barang dan kaca-kaca mobil angkutan umum itu banyak tertera poster ngehek berbunyi, "Piye, enak jamanku tho?"

Ternyata, diam-diam, banyak orang merindukannya. Iya, merindukan kepemimpinan sosok laki-laki dalam poster itu.

Pekalongan, 6 April 2016
Saya tidak tahu bagaimana asmara bekerja.

Saya pernah bertemu laki-laki yang ternyata harus pacaran 21 kali dulu untuk--akhirnya--memantapkan pilihan pada 1 wanita, dan menikah. Ada juga yang bahkan sampai pacar ke-27 pun, dia belum mau mengajak sang pujaan hati ke penghulu. Ada yang pacaran-putus-pacaran-putus, ujung-ujungnya balikan sama mantan pertama. Ada yang memegang prinsip: "Kutunggu jandamu!" Ada. Beneran. Dan dia dengan setianya menjomblo sampai Allah kasihan lalu ambil nyawa suami dari wanita yang dicintainya, dan si wanita jadi janda kembang. Yang lain memutuskan untuk tidak menikah selamanya, gegara ditinggal kawin wanita yang sudah 8 tahun dipacarinya (uh kasian >_<), tapi toh pada akhirnya dia menikah juga. Dan bahagia. :|

Banyak yang tidak pacaran. Banyak. Tapi mantap bilang "Ya", saat dilamar seseorang yang belum dikenal. Banyak juga yang tidak pacaran, tidak menikah, tiba-tiba ngidam.
Saya tidak tahu bagaimana asmara bekerja. Ia menakjubkan, tapi juga membuat gila. Sama gilanya dengan dua sejoli yang sampai jam 00 masih telponan, padahal jam 22 tadi baru pulang dari agenda kencan.

Saya tidak tahu bagaimana asmara bekerja. Dan bagaimana perjalanan asmara saya nantinya. Saya hanya berbaik sangka, bukankah Allah lebih tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya? Kalaupun saya bilang saya mau Rio Dewanto, tapi Allah memandang saya lebih membutuhkan figur macam Ust. Wijayanto, saya bisa apa?

Saya tidak pernah tahu bagaimana asmara bekerja. Tapi saya yakin, Allah sendiri yang akan memberi isyarat bila waktunya tiba.

"Kapan itu, Up?"

Saat jodoh sudah di depan mata. *Eaa
Sembari bekerja, sembari menjaga hati kita.
Selamat larut malam!
Salam asmara dan kejombloan.
Besok libuurr! -_-zZZ

***

Tulisan ini dibuat sekaligus diposting pertama kali pada 7 Desember 2014, sekitar dini hari menjelang pukul satu. Pada saat itu, istilah pacaran amat sangat dekat di telinga. Di hati para remaja. Tapi saya tak tertarik untuk menjadi lakonnya, dan tak pernah tertarik bahkan sampai detik di mana seorang laki-laki datang melamar.
Barangkali, banyaknya kubu yang menyerang dan menekan Ahok dengan dalih agama/keyakinan (baca: mengata-ngatai belio sebagai kafir, dan bla bla bla, sehingga tidak pantas dipilih sebagai pemimpin) membuat segelintir orang merasa simpati, lalu menuliskan,
Untuk sekedar memberi gambaran bahwa tidak semua muslim setuju dengan sikap deskriminatif semacam itu. Sialnya (atau asyiknya?), tindakan tersebut mendapat respon balik, berupa kalimat,

Nah.

Pertanyaannya sekarang, haruskah menggunakan premis "saya muslim"?

Secara harfiah, memang, muslim berarti orang yang berserah diri (kepada Allah), atau lebih sempitnya; penganut agama islam. Dia bisa diartikan secara tunggal. Tapi, pembicaraan tentang muslim juga hampir selalu dimaknai secara jamak, komunitas, karena yang islam ndak cuma kamu. 

Mengatakan "saya muslim" sama artinya dengan mengklaim bahwa "saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang memeluk islam".
Huh, berat lho itu. Berat sekali pertanggungjawabannya. Keyk bawa orang sekampung. Karena mau tidak mau kamu dianggap mewakili ummah (sebutan untuk jama'ah muslim), bukan sekedar personal statement. Hati-hati.

Dukung/tidak dukung, pilih/tidak pilih, cinta/tidak cinta, itu hak masing-masing orang. Tapi ya kalau bisa, mengungkapkannya atas nama diri sendiri. Seperti misalnya,
Itu cukup.

Pekalongan, Maret 2016
"Na, tepungnya terlalu tebal itu." Demikian komentar Ibuk ketika pagi itu doi melihat hasil gorengan saya di dalam wajan.

Namanya sukun, sejenis buah tak berbiji dan memikiki tekstur daging yang empuk bila dimasak. Buah yang namanya mirip dengan salah satu merk rokok tapi bukan rokok ini bisa diolah menjadi beragam menu makanan dari mulai kolak, bolu, sampai keripik. Di lingkungan kami, sukun cukup menjadi favorit, terutama jika digoreng. Ibuk sendiri mengolahnya menjadi gorengan dengan melumurkan adonan tepung encer di seluruh permukaannya, lalu memasukkannya ke dalam minyak panas, untuk kemudian ditiriskan dan dijual bersama gorengan yang lain. Sini, Mas, dibeli selagi hangat. :*

Berulang kali Ibuk mengatakan bahwa adonan tepung untuk sukun itu tidak sama dengan adonan tepung untuk tempe, tahu, apalagi bakwan. Dia harus encer, harus tipis-tipis saja menyelimuti, agar panasnya minyak dapat mendekap erat daging sukun hingga ke relung jiwanya, dan ia pun matang secara sempurna. 

Cih, sempurna. Ibuk lupa, di dunia ini tuh nggak ada yang sempurna, Buk, nggak ada. Yang manis di depan itu biasanya hanya menyisakan pahit untuk dikenang. *bubar! bubar!
Berulang kali Ibuk mengatakannya. Berulang kali pula saya mengerjakannya. Dan selalu salah.
Saya pikir akar permasalahannya ada dua. Pertama, Ibuk mengatakan hal yang sifatnya subjektif: encer dan tipis. Untuk bisa dikatakan encer, sesuatu harus memiliki perbandingan dengan yang lebih kental. Tapi, setelah dibandingkan pun, kesimpulan yang diambil masih subjektif. Encer yang dimaksud Ibuk belum tentu sama dengan encer dalam benak saya. Meski kami sama-sama wanita, meski kami sama-sama meletakkan nama Bapak di urutan pertama Laki-Laki Paling Dicinta.
Akan berbeda kiranya jika Ibuk menjelaskan pengertian encer dengan rumus yang bisa dihitung, misal: 1 ons tepung beras dan 1/2 ons tepung gandum untuk 2 gelas air. Nah!

Sayangnya Ibuk ndak begitu. Karena saya tahu, doi sendiri sebetulnya moody, suka semaunya sendiri.

Yang kedua, saya terlalu egois untuk mau mengikuti aturan Ibuk. Saya bisa saja membuat adonan seencer yang Ibuk buat. Pada tahap tertentu ketika memasukkan satu per satu bahan ke dalam wadah plastik, saya tahu, "Segini nih encernya si Ibuk." Tapi, saya tetap melanjutkan langkah dengan menambahkan secercah gandum.

Owalaaahh.. ternyata podo bae atose hahaha.

Enggak ding. Saya hanya merasa bahwa aktivitas memasak, entah itu menggoreng, menumis, memanggang, memotong, meramu bumbu, dan lain sebagainya, adalah seni. Di mana seorang pencipta bebas mengekspresikan style-nya sendiri. Toh dalam seni, setiap karya akan menemukan penikmatnya masing-masing, maka saya percaya, sukun saya pun akan ada yang beli meski dengan terpaksa.

Dan secara estetika, saya menganggap tingkat keenceran adonan buatan saya--yang sedikit lebih kental dari Ibuk--sudah pas. Coba saja lihat gambar yang saya sertakan. Pas, kan, pas? Dengan balutan tepung yang masih mempertontonkan aurat daging sukun itu saja Ibuk menganggapnya kurang encer dan tipis. Lalu bagaimanakah hasil gorengan Ibu? Kita yang merasa syar'i sampai ke sumsum tulang ini pasti malu, karena sukun goreng buatan Ibuk saya lebih telanjang dari gaun malam yang dikenakan Anindya Kusuma Putri pada ajang Miss Universe 2015 silam.

***

Saya diam saja, tidak membalas komentar Ibuk. Karena kami sama-sama tahu, tidak akan ada yang berubah dengan berbalas-balas komentar. Saya akan tetap bersalah, dan Ibuk akan tetap menyuruh saya menggorengnya lagi meskipun baginya itu salah. Yang terpenting bagi kami adalah; tak sampai satu menit dari diangkatnya sukun goreng ini dari wajan, tetangga-tetangga kampung sudah berbondong membelinya. "Mumpung hangat," kata mereka.

Dan.. selesai.

Ini dunia dagang. Tidak peduli ideologi mana yang mau dipertahankan, asal dagangan itu laku, maka urusan kita kelar.
Mau saya gorengkan sukun, Mas? ;)

Pekalongan, 11 Februari 2016

Saya hampir tak pernah merasa cemburu. Pada manusia, misalnya, mungkin juga pada burung-burung, paku payung, dan serpih-serpih kayu dari kaki meja yang mulai keropos digerogoti rayap. Para ahli di luaran sana mengatakan cemburu adalah manusiawi, yang sudah dimiliki manusia bahkan sejak usianya baru menginjak sasi kelima, tapi saya tidak percaya. Saya tidak memilikinya.

Ketika menceritakan watak anak-anaknya, Ibuk selalu mengatakan bahwa di masa kecil, saya adalah anak yang keras kepala, penuh ambisi menguasai, dan cenderung tidak mau menerima kekalahan. Saya sering mengamuk setelah gagal melakukan sesuatu, dan ringan tangan pada siapapun yang mengusik konsentrasi saya, sekalipun ia hanya bocah kecil yang masih belajar merangkak. Dalam sebuah permainan anak kampung, saya ingat, saya pernah tersandung jatuh di saat seharusnya saya bisa jadi pemenang. Tentu saja saya tidak terima. Saya ngotot memaksa anak-anak lain untuk mengulang permainan, lalu meminta adik saya menjadi pemain pengganti. Adik saya kalah. Dan saya menangis. Jengkel pada segala.
"Fina ki menengan, tapi atos." Begitu kata Ibuk.

Tapi mau tak mau, Ibuk harus mengakui bahwa anak ke-duanya ini memang bukan tipe pencemburu. Saya tidak pernah merengek minta ikut saat Ibuk lebih memilih adik saya untuk diajak belanja. Dan tidak pula marah ketika tahu Mbak Liya dibelikan sandal, sementara saya tidak.

Cemburu, kalian tahu, adalah semacam ketakutan akan kehilangan sesuatu yang dirasa dimilikinya.

Saya sering mendengar seorang wanita cemburu ketika kekasihnya, barangkali, terlihat begitu akrab dengan wanita lain yang--mereka--sudah bersahabat sejak kecil. Lalu cemburu itu diekspresikannya dalam aksi ngambek tiga harian, atau ngomel-ngomel di telepon sepanjang malam. Ini tidak logis tentu saja. Maksud saya, ini tidak imut.

Setiap orang memiliki hak atas hubungan timbal-balik yang mereka bangun dengan siapapun dan apapun. Saya merasa memiliki Ibuk saya, tapi beliau juga milik anak-anaknya yang lain, milik bapak saya, milik embah saya, milik para pelanggan di warungnya, dan lebih dari itu, milik Tuhan. Mereka berhak atas sebagian perkara dari dirinya. Katakanlah saya mencintai kamu, Mas, tapi ingat bahwa kamu juga dicintai sahabat-sahabatmu, dicintai komunitasmu, dicintai saudara-saudarimu, orang tuamu, dan lagi-lagi, Tuhan. Kalau cinta membutuhkan fokus, maka bagi fokusmu itu sesuai porsi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang keliru adalah ketika salah satu dari kita melanggar komitmen. Penghianatan atas kesepakatan-kesepakatan bersama. Kesepakatan yang inti dan intim, bukan semata tuntutan buta untuk tidak begini-begitu.

Bedakan.

***

Sementara setatus ini diketik, sebagian orang tetap bersikukuh bahwa cemburu yang begitu adalah tanda cinta. Dan saya menghargainya. Tidak tertutup kemungkinan bagi saya untuk sampai pada definisi itu, saat waktunya tiba. Kita toh terbiasa menjadi tolol untuk hal-hal yang kita suka.

Pekalongan, 8 Januari 2016

Biasanya, orang yang kedatangan tamu dari jauh cenderung akan memperbaiki kondisi rumahnya terlebih dahulu, minimal, agar tamunya kerasan. Tapi tidak demikian dengan adik saya.

Arizkanesia Tsiqah namanya. Dia, tanpa rasa pekewuh--sebab Mbakyu-nya yang dari Pekalongan ini mau bertandang ke Jogja, membiarkan begitu saja meja kamarnya penuh sesak oleh beragam barang yang numpuk berantakan. Debu, laptop, charger, buku-buku, cairan pembersih wajah, sampai cotton buds sekalipun, tumplek jadi satu. Saya sampai heran bercampur haru, adik saya ini perempuan atau laki-laki? Di sini kadang saya merasa merindukan sosok suami. *eh

Melihat keumbrusan semacam itu, entah bagaimana saya tidak marah. Tidak jengkel, apalagi ngamuk-ngamuk. Saya hanya ngomel sedikit, sedikit lho ya, lalu bergerak perlahan membereskan setiap sudut problematika di kamar kost adik saya.

Lalu saya mikir, mungkin beginilah cinta. Entah karena Rizka-nya yang mudah dicintai, atau memang saya-nya yang mudah mencintai (ehem), dengan sendirinya tangan ini cekatan membersihkan dan menata ulang barang-barang, di saat pemiliknya asik nggelosor sambil gadget-an selepas shubuh. Saya bisa saja cuek sebenarnya, pura-pura gak lihat atau apa, tapi hati ini ndak tega je. Saya cinta sama adik saya.

Duh, (lagi-lagi) tentang cinta. Dia membuat banyak orang melakukan hal-hal 'besar' atas kehendak hati. Saya jadi mengerti, cinta memang kadang tak mengenal logika.

Lha ya iya, tho? Kalo cinta pakai logika, mungkin kamu nggak akan ngejar-ngejar dia yang sudah tegas menolakmu. Juga nggak bakalan ada lagi orang-orang yang nikung sahabatnya sendiri. Ihik!

Sudah ah. Dari pada cinta-cintaan, mending ikut Rajaban. *O*
Shollu 'alaa Muhammad.

Yogyakarta, tahun baru 2016 ~

Rokok


Ilustrasi Perempuan Merokok | Credit Foto : @sunnybird www.weheartit.com

Awalnya, saya pikir, saya tidak merokok karena saya perempuan. Mungkin sama halnya seperti saya belum menikah karena saya lajang. *eh, typo :v

Tapi lambat laun, seiring makin matang dan anggunnya diri ini, saya sadar, merokok itu pilihan. Dia adalah kebebasan bagi tiap-tiap jengkal kehidupan, bukan semata milik kaum lelaki atau banci-banci di trotoar jalanan. Hanya saja, di negeri gemah ripah loh jinawi ini, perempuan yang merokok memang masih dianggap tabu. Saru. Tidak sepantasnya. Juga berbagai istilah lain yang ada. Maka sangat tidak mengherankan jika respon masyarakat menjadi sedemikian mengharukan ketika pada Oktober 2014 yang lalu, di antara deret panjang menteri Jokowi, berdiri Susi Pudjiastuti, perempuan perokok.

Ini bukan sebentuk pembelaan terhadap kaum perokok. Bukan. Jangan suka salah paham gitu lho. Tak sun baru tahu rasa. Saya ini cuma pingin bilang, masing-masing dari kita punya pilihan, alangkah indahnya jika kita bisa bertanggung jawab pada pilihan itu, lalu saling menghargai atasnya.

Saya pernah mencicipi rokok--untuk tidak dikatakan merokok. Dulu, dulu sekali. Pada periode di mana rasa ingin tahu selalu menjadi perkara yang bisa dimaklumi. Pernah mencoba yang filter, pernah juga yang kretek. Dan tentu saja, bagi anak perempuan seumuran saya kala itu, filter lebih dijagokan. Keyk ada manis-manisnya gituh. Tapi apalah daya, baik filter maupun kretek, respon tubuh saya tetaplah sama: terbatuk-batuk. Saya pun langsung memutuskan, "Ah, ora enak." Kemudian berlalu.

Belakangan saya merenung, sikap saya saat itu seolah menjadi pertanda, saya tidak merokok bukan karena saya perempuan, melainkan karena saya tidak doyan. Kalau meminjam istilah dari teman saya: "Saya nggak nemu nikmatnya di mana."

Masalahnya kemudian adalah kita terlalu terdoktrin pada skala hitam-putih, buruk-baik hal dari dua nilai yang saling bertentangan. Bahwa yang tidak merokok itu jauh lebih baik dari yang merokok, lebih bersih, lebih sehat, lebih hemat, lebih sopan, lebih beradab, lebih ngalimi, dan tetek bengek penilaian lain yang sifatnya tidak mutlak. Sementara yang merokok adalah antitsesis dari semua itu. Kan, ngehek. Analoginya jadi semacam: yang ganteng dan kaya itu sudah pasti membahagiakan. 

Ooooora ngandel!

Jal sawang-o, kae lho Mbak-Mbak ayu pacare yo biasa tok. Mas-Mas ganteng sing kae yo pacare biasa tok. Sing biasa karo sing biasa yo akeh. Kenapa? Karena mereka mengejar kenyamanan, lewat komunikasi yang nyambung dan prinsip-prinsip senada, yang seringkali justru tidak terpatok pada fisik dan materi.

*hening sejenak

Iki ngopo dadi mbahas kegantengan? Ngoahahaha~

Ujung-ujungnya--oleh sebab skala hitam-putih itu tadi--kita yang tidak merokok jadi merasa paling benar, lalu memaksakan kehendak pada yang lain. Satu sikap, yang tidak pernah saya dapatkan dari Bapak.

Suatu ketika, Bapak berkata pada saya, "Rokok itu haram bagi yang mengharamkan." Kemudian melanjutkannya setelah diam beberapa saat, "Menurutmu, kenapa Muhammadiyah mengharamkan merokok? Sebab merokok diyakini dapat membahayakan diri sendiri dan orang banyak, juga termasuk ke dalam perbuatan bunuh diri pelan-pelan, yang mana itu melanggar isi Qur'an. (Sungkem dulu sama Pak Haedar Nashir.) Kata 'bahaya' di sini lebih menitikberatkan pada unsur kesehatan, seperti kandungan nikotin dan ribuan zat beracun lainnya. Tapi, coba kamu lihat, Nduk. Orang-orang yang merokok itu kebanyakan adalah orang-orang legawa yang berumur panjang. Karena mereka gemar berbagi dan menjalin pertemanan. Kalau kamu perhatikan, ketika ingin merokok, mereka pasti akan menawarkan rokoknya pada orang di sebelahnya, tak peduli siapapun dia, tak peduli apakah perokok atau bukan. Lalu dari situ terciptalah obrolan. Itu, menurut Bapak, adalah keahlian yang naluriah. Dan diakui atau tidak, itu menyehatkan, dalam pengertian yang lain."

Bapak saya termasuk orang yang mengharamkan rokok bagi dirinya sendiri, tapi tidak kepada yang lain. Sering saya lihat lelaki paruh baya itu menyuguhkan sebungkus-dua bungkus rokok pada kawan yang bertandang. Lalu jika tersisa, sisanya diberikan untuk mereka bawa pulang. "Nggo sangu neng ndalan," kata Bapak.

Kan, jadi kangen Bapak kan. :')

Kalau kalian--eh, kita--adalah orang-orang yang mempermasalahkan perkara seperti, "Giliran beli beras aja pake ngutang, tapi rokoknya gak pernah mandeg," dan menganggap bahwa salah satu penyelesaiannya adalah dengan menutup semua akses pendistribusian--bahkan kalau perlu ditutup itu pabrik--rokok di negeri ini, mungkin kita hanya sedang lupa, bahwa: 1. Mengumpulkan uang yang seharusnya dipakai untuk membeli rokok itu tidak lantas menjadikan seseorang mampu membeli beras berkarung-karung dalam sekali angkut. Kamu tahu, uang rokok itu keyk tiba-tiba saja ada, gitu lho. Keyk, dipake nggak dipake pun pasti habis, gitu. Ngerti, kan? 2. Melarang akses distribusi rokok, bahkan menutup perusahan-perusahannya bukanlah jaminan orang-orang itu akan berhenti merokok, apalagi untuk mereka yang sudah meletakkan perkara ini pada tataran kebutuhan. Lha bayangin, perkebunan tembakau dan cengkeh kita itu begitu luas je, kita juga nggak butuh insinyur kelas kakap kalau cuma soal nglinthing rokok.

Nah, seperti yang saya katakan di awal, alangkah indahnya jika kita bisa bertanggung jawab dan saling menghargai atas pilihan masing-masing. Saya memilih tidak merokok, bukan berarti saya anti. Kamu, Mas, memilih untuk merokok. Ya, silahkan. Tidak perlu berbangga-bangga sok gagah begitu. Merokok-tidak merokok itu hal biasa. Seperti ngopi dan tidak suka kopi. Yang terpenting saya tahu kenapa saya tidak merokok, setelah itu diam, dan kamu tahu kenapa kamu merokok, lalu konsekuen, beli rokok pakai duit sendiri. Juga ingat, Mas, merokok itu tidak di tempat yang banyak orangnya. Karena, kamu tahu, tidak semua orang suka asap rokok. Tidak semua orang suka gayamu saat merokok. Mereka bukan saya, yang menerima kamu seluruhnya.

Pekalongan, awal Januari 2016
Di sebuah TK ABA...





Jam pelajaran telah usai. Kelas dibubarkan. Anak-anak usia 4-5 tahun itu berhamburan keluar dari kelas. Khafid, salah satu teman sekelas Aufa, berlari menghampiri ibunya. Dia menarik-narik bagian bawah kaos ibunya tanda minta perhatian, kemudian bertanya penuh semangat, "Buk, Buk, kok doa sholatnya beda sama yang dulu di sekolah PAUD?"

Yang dimaksud doa sholat adalah bacaan iftitah. Anak-anak di kelas B2 baru saja mempraktekkan tata cara sholat fardlu, tentu dengan metode skip-skip di banyak bagian; seperti wadlu dengan air mengalir, pakai mukena (bagi anak perempuan) dan peci plus sarung (bagi anak laki-laki), serta menggelar sajadah. Biarlah itu dilakukan nanti, sebab intisari dari pelajaran siang ini ada pada kerapihan shof, pelafadzan doa, dan gerakan-gerakan. Itu saja.

Mbak Nur, ibu dari bocah bernama Khafid itu melirik saya yang--meskipun tidak ada Mas-Mas Ganteng dan Bapak Muda Harapan Bangsa, tetap bisa--tersenyum. 

"Sama saja." Jawabnya. "Dua-duanya sama. Terserah kamu mau pakai yang mana." Dia menjelaskan pada Khafid dengan gestur keibuan--sesuatu yang bikin saya ngiri. Sampai saat ini saya masih stuck di level kegadisan, bahkan lebih parah lagi, kesendirian. *ngusap mata yang tetiba basah

Khafid manggut-manggut, tanda bahwa dia mendengarkan jawaban ibunya, alih-alih mengerti. Kelak di kemudian hari, Mbak Nur dan saya tahu, Khafid menggunakan dua bacaan iftitah dalam satu kali rokaat sholat.

"Fid, kalau seperti itu ya sholatmu bakalan lama." Mbak Nur menasehati anak sulungnya.

"Pakai salah satu saja, yang kamu sreg." 

Duh, Mbak. Anak TK kok sudah diberitahu tentang konsep "sreg". Saya yang setua ini saja masih ragu mana yang sebenarnya bikin sreg. :'v

"Soalnya aku bingung, Buk." Ujar Khafid agak keras. Saya hanya tersenyum.

Bingung, katanya. Suatu perasaan yang--saya yakin--tidak akan dialami Aufa dalam konteks yang sama. Sebab ke depan, sama seperti saya, Aufa akan diarahkan untuk tidak menemui dua iftitah berbeda.

"Yang bener itu yang mana sih, Buk?" Khafid kembali bertanya.

Kita potong sampai di sini.
Lalu izinkan saya yang menjawab: Dua-duanya benar, Khafid sayang. Kamu pakai yang A, ataukah yang B, sama saja. Yang salah adalah ketika si A mengklaim sebagai yang paling benar, lalu menganggap salah si B, dan memaksa semua orang untuk mengikuti pilihan si A. Juga sebaliknya. Yang terpenting itu bukan lewat jalan mana, tetapi dari mana dan ke mana arah-tujuannya.

Credit Foto : Vectorstock.com

Setelah ini, mungkin saya hanya perlu menerbitkan buku, atau minimal, mengunggah video ceramah saya ke yutub, kemudian orang-orang latah itu akan memanggil saya dengan sebutan Ustadzah.

Pekalongan, 15 Desember 2015
BINA ARIQOH

Tiba-tiba saja Bapak melontarkan kalimat yang membuat pagi ini seketika sendu.
"Kalau (Almh.) Bina masih hidup, pasti rumah bakalan makin rame ya." Katanya, lalu menatap saya dan Mbak Liya bergantian.

Sudah lama sekali kami tidak mengungkitnya, Si Bina itu, setelah hampir tiga belas tahun lamanya dia meninggalkan kami. Dia kejang pada Jum'at pagi, lalu tak sadarkan diri hingga Sabtu sore sebelum saya menjenguknya di rumah sakit. Dokter menyebut-nyebut radang selaput otak, entahlah, kami embuh soal istilah-istilah. Kami hanya ingin bayi di depan kami itu sadar dan menangis, bukan tergeletak lunglai dengan wajah pucat dan mata berair tanpa suara.

Bina membuat saya tidak menginginkan adik perempuan lagi, segera setelah dokter memvonisnya meninggal dunia sore itu. Saya pulang dengan jeritan kehilangan, dengan tekad tidak akan memberikan restu pada Bapak-Ibuk untuk kembali mempunyai anak perempuan. Kalau saya harus punya adik lagi, maka ia harus laki-laki, harus kuat, agar tidak sakit, agar tidak mati.

Sampai kemudian lahirlah Aribi, perempuan, disusul Aufa, perempuan, yang menggenapkan kami menjadi lima. Lalu pagi ini, Bapak mengingatkan kami betapa menyenangkannya jika kami masih berwujud enam perempuan yang utuh. Menyadarkan saya bahwa mati bukanlah soal perempuan atau laki-laki, melainkan bukti kefanaan diri.

***

"Kalau sekarang masih hidup, Bina sudah sebesar apa ya?" Suara Bapak kembali menggema. Matanya berbinar, mungkin membayangkan rupa anak keempatnya yang menggemaskan.
Lalu mendadak saja, perasaan saya dihinggapi rindu.

Pekalongan, 25 November 2015


Kalau ada bencana perang paling berpengaruh, yang memiliki dampak buruk bagi stabilitas pertemanan di Indonesia, dan meninggalkan sisa-sisa pertikaian berkepanjangan, maka Kampanye Pilpres 2014 lah jawabannya.

Kampanye kala itu sukses membagi citra masyarakat Islam dalam dua kubu besar yang berseberangan, katakanlah: Abangan-Liberal melawan Militan. Dan berhasil mempersempit eksistensi perorangan menjadi dua kelompok abstrak: yang suka mainan boneka, dengan yang hobi naik kuda bawa senjata. Heuheu. :3

Sudah beberapa kali akun ini mengalami pemblokiran tanpa izin, juga peng-unfriend-an sepihak yang, ajaibnya, tidak hanya dilakukan oleh "sebatas teman sosmed", tapi juga dia-dia-dia yang adalah teman kongkow semasa SMA. Betapa bangke-nya.

Kenyataan menjadi lebih memilukan ketika tanpa sadar kita berdua (iya, kita) ikut larut dalam gelombang peperangan itu. Sampai lupa diri, sampai tahu-tahu kita sudah berdiri di dua sisi yang berbeda. Ini membuat obrolan mesra kita via sms tak berarti apa-apa ketika kita memilih adu argumen di sosial media. Ah, kamu.. kamu tentu tahu bagaimana sensitifnya periode itu. Begitu sensitif, hingga kita kesulitan membedakan mana kita yang sedang bermusuhan dan mana kita yang sedang ingin mesra-mesraan. Lalu pada suatu khilaf, kita menciptakan atmosfer peperangan itu dalam obrolan pribadi. Dan bom waktu pun meledak.

Kita menjelma menjadi dua pribadi yang asing, juga mengasingkan. Sampai Jokowi resmi dilantik menjadi presiden, sampai kabinetnya mengalami reshuffle kepemimpinan hampir setahun kemudian, bahkan sampai kini semuanya menjadi serba ngambang; penyuka boneka disuruh latihan militer untuk bela negara, dan orang-orang yang katanya liberal justru semakin militan terhadap kelompok yang menjadi basis pergerakannya; kita tak juga baikan.

Sangat disayangkan, meski tak benar-benar menyesali. Lha gimana, wong wis kadung. :v
Perdebatan panjang waktu itu telah membuka tabir pemikiran kita yang paling dasar, dan menyadarkan kita tentang perbedaan yang membentang luas. Dari situ lah, barangkali, kita memaklumi bahwa kita ndak jodoh. Ihik! :v

Sudah lebih satu tahun. Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kamu ndak rindu? Saat-saat di mana kita masih bersama, saling sapa, dan selalu ingin menjadi yang lebih dulu mengucapkan "Selamat pagi, kamu!"

Andai besok kita ketemu, ingin sekali rasanya bilang, "Ternyata move on itu nggak sulit-sulit amat." :')

Pekalongan, ditulis dengan sayang.
"Pet, Dodit bilang dia mau nglamar aku." -Liyadini, 27 tahun.

***

Saya sedang asik membalas ribuan chat dari fans di WhatsApp dan LINE petang kemarin, ketika kemudian Mbak Liya masuk ke ruang tengah dan meminta saya ikut nggelosor di sampingnya. Ada yang ingin diceritakan, katanya. Ini hal yang biasa. Wanita selalu ingin ditemani, terutama ketika dia baru saja mengalami sesuatu yang meresahkan hatinya. Dia butuh tempat untuk berbagi. Nah sayangnya, kebanyakan lelaki memiliki kecenderungan untuk terlihat berguna, lalu memandang situasi ini sebagai bentuk permintaan bantuan. Sehingga dengan gegabah mereka menawarkan berbagai solusi pada si wanita, tanpa ingin mendengar lebih jauh. Mereka tidak mengerti, bukan solusi yang wanita cari, melainkan teman berbagi. Heuheu. Ini kenapa ngalirnya jadi ke sini? :3
Saya segera offline dari semua chat, sejenak mengabaikan teriakan para fans, demi mendekat kepada Mbak Liya.

"Piye, Mbak?" Sambil merebahkan tubuh di dekatnya, saya bertanya kalem.

Mbak Liya meletakkan hape yang sedari tadi digenggamnya, lalu menjawab pelan, "Dodit bilang dia mau nglamar aku, Pet."

Lupakan soal Pet. Lupakan bahwa dalam Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Pet bermakna hewan peliharaan. :3

Seharusnya, ini menjadi kabar yang menggembirakan, setidaknya, bagi Mbak Liya. Seorang lelaki yang telah lama dikenal, usia matang, cukup mapan, berniat melamarnya. Apa yang kurang, cuba? Datangnya lelaki yang ingin melamar memang menjadi dambaan bagi kebanyakan wanita di atas 25. Tapi, adalah sesuatu yang menggelisahkan ketika yang berniat melamar adalah mantan. Dan ngomongnya di saat kita sudah punya pacar. *Duh, Mas! Tak sun lho.

Dodit--bukan nama sebenarnya--adalah tetangga kami, sekaligus pacar pertama Mbak Liya, dulu, semasa SMP. Putus entah karena apa, lalu balikan ketika keduanya sudah lulus SMK dan sama-sama kerja. Saya pikir, setelah nyambung lagi mereka bakal langgeng sampai menikah, tapi ternyata kembali putus oleh sesuatu yang hanya orang dewasa yang tahu. Entahlah. Saya yang masih unyu-unyu ini sering dibuat bingung sendiri karenanya.

Mereka lalu punya pacar masing-masing. Mbak Liya didekati oleh Mas-Mas distributor es batu yang manis dan berambut ikal, sementara Dodit berpacaran dengan banyak wanita yang saya tak peduli siapa mereka. Putus dari si rambut ikal, Mbak Liya terjerat hubungan asmara dengan produsen tempe rumahan, yang cungkring tapi ternyata punya selingkuhan. Dan Dodit, tetap dengan wanita-wanita yang hilir-mudik menemaninya. Dalam rentang waktu itu, saya tahu, Dodit sering mengirim pesan kalimat sayang kepada Mbak Liya. Entah dalam bentuk tanya-tanya perhatian, maupun ungkapan semacam "I Love U, Sayang". Dan Mbak Liya, entah sadar atau tidak, bolak-balik mengenakan kaos pemberian Dodit tanpa risih sama sekali. Tanpa khawatir Dodit akan melihatnya lalu menganggap ini sebagai kode. Aaahhh.. hubungan macam apa sih ini, Tuhan?

***

"Aku sudah berkelana, Ndut." Kata Dodit. Ndut adalah panggilan sayangnya kepada Mbak Liya. 

"Aku sudah ketemu banyak wanita. Yang cantik, yang kaya. Aku sudah lelah. Sekarang mau mencoba untuk serius. Dan wanita yang mau aku seriusin, ya cuma kamu." --> Perlu kalian tahu, Dik, inilah jurus andalan yang biasa dipakai lelaki untuk mendapatkan simpati wanita. Dia beberkan dulu di awal betapa dia memiliki banyak kesempatan dan pilihan, tapi keputusannya tetap jatuh ke satu: si 'kamu' itu. Ini namanya teknik mengistimewakan. Heuu.. *lelah.

"Kenapa aku?" Tanya Mbak Liya. --> Ini juga pertanyaan klasik khas wanita. Tujuannya hanya satu: diistimewakan. Karena pada hakikatnya, wanita memang senang diistimewakan. Cocok! :3

"Karena aku nyaman sama kamu, Ndut. Aku juga lihat kamu gini-gini aja. Punya pacar tapi pacarmu nggak buruan ngelamar. Makanya aku berani maju." Jawab Dodit cepat, tanpa ragu. Duh. Kok jadi saya yang ngilu. "Aku tunggu sampai akhir tahun. Kalo kamu 'yes', aku bawa Bapak-Enyak ke rumahmu." Dodit menutup dialog kala itu dengan senyuman.

***

Saya tidak berani menjamin, apakah Mbak Liya akan setia pada pacarnya, atau justru lari memutar ke pelukan sang mantan. Hati manusia siapa yang tahu, Dik. Kamu tampak mencintai seseorang tapi sebenarnya mengharapkan yang lain, itu sah-sah saja. Yang kelihatannya cuek tapi sebenarnya sayang juga banyak kok. Maka ketika Mbak Liya menanyakan pendapat saya tentang kegundahannya, saya hanya menjawab, "Kamu yang lebih tahu hatimu, Mbak."

Dan kini saya mengerti, lebih tepatnya dipaksa mengerti, betapa misterinya kerja hati.

Pekalongan, 15 Oktober 2015
Di antara sekian banyak profesi yang saya cita-citakan sejak kecil, menjadi guru TK adalah satu yang paling awet saya pendam. Profesi itulah yang saya sebut ketika pertama kali ditanya, "Cita-citamu apa?" dulu, pas lagi unyu-unyunya. Kalo sekarang sih, jadi ibuknya anak-anakmu sajalah, Mas.
Sampai menginjak usia SD, hingga SMP, bahkan menjelang kelulusan SMA, menjadi guru TK tetap masuk ke daftar impian, bersanding dengan ragam mimpi lain seperti jurnalis, designer, dan kryptografer. 

Tapi sayang, saya gagal melakoninya.

"Gapapa, Up, yang penting kamu nggak gagal mendapatkan cinta saya."
Eh, Mas! Kamu kok.. :*

Saya mengikuti UM-PTN di jurusan Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia melalui jalur bidik misi tahun 2010, dan failed. Di titik inilah, saya mulai menata kembali hati yang telah remuk-lebur oleh pupusnya asa. Sebab, kamu tahu, seringkali kita perlu mengesampingkan ambisi untuk sekedar berdamai dengan realita. *halah

Sejak saat itu, entah bagaimana, saya nyaris lupa bahwa saya pernah begitu ingin menjadi guru TK.
Sampai bertahun-tahun kemudian, lahirlah Aufa, dan tiba waktunya dia masuk TK. Duh, Mas. Setiap mengantar Aufa, setiap melihat guru-guru dari adik mbontot saya itu, saya selalu merasakan getaran CLBK. Seakan-akan dia adalah gebetan masa lalu yang gagal saya pacari, tapi masih meninggalkan jejak penasaran hingga kini. Eheu.

Bagi saya, guru TK adalah manusia-manusia pilihan. Sebab tidak sembarang orang bisa melakoni itu. Jika wanita, maka dia adalah wanita yang penyabar--atau minimal, terlatih untuk bersabar--lembut perangainya, dan penuh kasih sayang. Betapa sempurnanya. Andai saya jadi guru TK dengan segala sifat malaikatnya itu, mungkin saya hanya perlu melatih skill bergaul saya dan membumbuinya dengan keterampilan menggombal, lalu, uh! Lelaki mana yang tak kendor hatinya? Huahahahahaa
Tapi, Tuhan memang Maha Cantik. Alih-alih meridloi saya untuk tampil sebagai guru TK, Dia malah menjadikan saya seorang--ehem--bidan. Yang tanpa saya pernah duga sebelumnya, justru profesi inilah yang digandrungi para calon mertua di Indonesia. Ngoahahahahaa! :v

Wis, ah. Kayaknya saya perlu banyak-banyak istighfar dan nyolawat, biar sadar. :3 :v

Pekalongan, 10 Agustus 2015