Tampilkan postingan dengan label Sajak dan Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak dan Puisi. Tampilkan semua postingan
Ibu mengajarkan pada anak-anaknya untuk selalu membawa uang lebih saat bepergian, sekalipun itu akan tak digunakan. Katanya, selain untuk jaga-jaga bila ada pengeluaran tak terduga, uang di dompetmu juga bisa menjadi modal percaya diri untuk masuk ke dalam toko lalu keluar tanpa membeli sebarang pun. Lho, kalau tidak beli kenapa masuk? Ya kali aja penjaga tokonya ganteng.

Sama halnya dengan buku.

Bacalah ia banyak-banyak, sekalipun tak ada orang yang akan mengajakmu berdebat tentangnya. Bacalah. Selain untuk kesenanganmu sendiri, ia juga akan membuatmu memiliki perbendaharaan kata yang cukup untuk tidak merasa kerdil di muka sesama. Dan pada satu titik, membawamu berteman dengan makin banyak orang.

Selamat membaca.
Tauhid

Bertauhid itu nggak gampang. Dia bukan cuma perkara menunggalkan Tuhan. Lha, buat apa menunggalkan Tuhan? Wong Tuhan memang sudah Tunggal.
Bertauhid itu tentang bagaimana kita mengelola asa, mengatur degup jantung, hela napas, potongan-potongan peristiwa, dan segala sistem hidup yang carut-marut ini, hanya untuk dan menuju Yang Tunggal.
Dan itu--sekali lagi--nggak gampang.

Organ Jantung


Shollu 'alaa Kanjeng Nabi ~
Bertauhid itu nggak gampang. Dia bukan cuma perkara menunggalkan Tuhan. Lha, buat apa menunggalkan Tuhan? Wong Tuhan memang sudah Tunggal.

Bertauhid itu tentang bagaimana kita mengelola asa, mengatur degup jantung, hela napas, potongan-potongan peristiwa, dan segala sistem hidup yang carut-marut ini, hanya untuk dan menuju Yang Tunggal.

Dan itu--sekali lagi--nggak gampang.
Shollu 'alaa Kanjeng Nabi ~

Nak, di sini di rumah sakit, kamu akan melihat bahwa keromantisan bukan hanya milik sepasang kekasih, tetapi juga milik bapak mertua yang sabar merawat mantu wedoknya saat sang suami tengah pergi mencari biaya.

Nak, di sini di rumah sakit, kamu bisa melihat bahwa keindahan juga ada pada raut muka lelah seorang lelaki tua yang duduk menunggu di dekat ranjang istrinya, dalam lara yang mengiringi pasca operasi pengangkatan rahim.

Nak, di sini di rumah sakit, kamu akan tahu bahwa kriminalis, pelacur, anak yang durhaka pada orang tuanya; golongan-golongan yang kamu anggap hina itu, termasuk bayi-bayi yang lahir dari perbuatan zina sekalipun, berhak hidup.

Karena, Nak, di sini di rumah sakit, Tuhan dan manusia sungguh begitu dekat.

~

*dibuat sepulang shift malam, terilhami dari salah satu setatus Gus Haibani Ebidzar
Bak meteor di luasnya angkasa, kamu melesat pongah. Lari kesana kemari dengan gerakan congkak. Kamu lupa, pada satu titik, kita akan berada begitu dekat. Hingga gravitasi menarikmu jatuh ke pelukanku.

_Bumi.
Kasihan wanita,
Dilahirkan untuk berdarah.
Pada setiap siklusnya harus kehilangan banyak darah

Kasihan wanita,
Berapa banyaknya jika satu lembar pembalut ukuran sedang dapat menampung 20-30 cc darah?
Lalu pada 2 hari pertama perlu berganti 4-5 kali pembalut sehari karena selalu penuh

Kasihan wanita,
Ia rentan terserang anemia
Pada saat hamil harus berbagi darah dengan janinnya
Padahal pasokan untuk dirinya sendiri saja tak lebih dari cukup

Kasihan wanita,
Darah menjadi bagian dari eksistensinya.
Saat melahirkan masih harus mengeluarkan darah. Apalagi jika terjadi robekan pada jalan lahirnya
Pun pada 7 hari pertama masa nifas harus tetap merelakan sebagian darahnya keluar

Kasihan wanita,
Setiap kali berdarah ia "dilarang" beritual kepada Tuhannya, "dilarang" berpuasa, "dilarang" menyentuh kitab suci di dalam lemari bukunya, lebih-lebih lagi membacanya

Kasihan wanita,
Dan sungguh kasihan wanita
Tuhan telah menghadiahkan segudang pahala dibalik setiap tetes darahnya, tapi kebanyakan dari mereka lupa
Hingga ke-lupa-an mereka menjadi penyebab ramainya neraka

Adaptasi dari salah satu puisi karya Mas Don dengan judul "Kasihan NU"

Pekalongan, 22 Juli 2014
Guyuran dihidrogen monoksida itu menembus batas atmosfer, lalu terpecah di kolong langit menjadi jutaan rintik. Kelak, ketika ia turun menyiram gersang di planet biru, bukan hanya basah yang terpeta, tetapi juga imaji-imaji pendek tentang karsa yang melegenda. Hujan selalu mampu menyeret titik paling sensitif manusia menuju lorong-lorong paling mengena di masa lampau. Ia seolah ingin mengabarkan bahwa kenangan harus memiliki tempat. Dan potongan demi potongan peristiwa harus segera disusun membentuk suatu pola, layaknya rasi bintang di gugus timur. Manusia, kita tahu, adalah sistem terhebat dalam merakit sejarah. Tetapi tak semuanya gemilang. Sebagian menetap, sebagian tenggelam. Yang terbaik ialah siapa-siapa yang beranjak, kala rinai mereda.
Denganmu ku gapai impian
Bersamamu ku raih kemenangan
Dan kekuatanmu dekatkan persahabatan

Dariku kau tuntut beribu syarat
Sosokmu melekat erat bagai berkarat
Kau buatku tak berdaya bak seekor lalat
Budak, adalah kata yg tepat

Wahai, topeng-topeng kehidupan
Kau sumber segala kepalsuan
Anggap hidup ini bagai permainan
Tak peduli pada jiwa-jiwa bernama TEMAN

Topeng
Dunia ini memang cengeng
Maka itu kau sebagai tameng
Bagi raga-raga berjiwa kelereng

Pekalongan, 20 Oktober 2009