Saya dan suami termasuk sepasang kekasih yang masa pedekate-nya singkat. Dua kali ketemu langsung lamaran, tiga bulan setelahnya sudah sah tidur seranjang. Jadi ada banyak pe-er yang perlu kami--lebih tepatnya saya sih, sebagai pihak yang lebih perasa wkwk 😬--bereskan di awal pernikahan. Ada banyak sekali perkara-perkara yang ternyata dapat memicu terjadinya perang dingin di antara kami, dari yang prinsip sampai yang remeh-temeh.
Dan inilah salah satu contohnya.
Suami saya adalah orang yang paling tidak suka menawar harga. Misalkan saja kami berangkat ke pasar untuk membeli buah anggur, lalu sesampainya di sana kami bertanya pada seorang pedagang buah berapa harga untuk satu kilo anggur. Pedagang itu menjawab 80rb/kg. Nah, suami saya, tanpa ba-bi-bu akan langsung membayarnya dengan harga segitu. Ga pake nawar dulu. Bedaaaaa sekali dengan saya. Hal pertama yang saya lakukan pastilah mbatin, "Larang tenan!" Baru setelah itu mulai menawar pelan-pelan, 60rb/kg misalnya, sampai ketemu nominal yang disepakati bersama.
Dulu, awal menikah kami cukup sering berselisih paham soal ini. Beliau melarang saya menawar harga. Katanya, "Wong paling harga segitu kok ditawar. Giliran beli di supermarket ga pernah protes. Padahal mereka (para pedangang di pasar) itulah yang lebih butuh duit ketimbang pemilik supermarket." Begitu katanya.
Hm. Saya tidak bisa membantah. Untuk alasan demikian, beliau benar. Tapi sikap saya juga tidak sepenuhnya salah, kan? Ya, kaaan? 😢
Saya dibesarkan oleh seorang ibu yang menghabiskan sebagian besar waktu fajarnya di pasar. Berbelanja bahan pangan untuk dimasak dan sebagian lagi dijual. Beliau selalu update informasi soal harga-harga bahan pangan, dan tentu paham bagaimana orang-orang di pasar itu terkadang curang dengan melipatgandakan harga atau menambah berat timbangan. Tidak semuanya, tentu saja, tapi juga tidak sedikit.
Pernah suatu ketika ibu saya membeli dua kilo cabai merah. Tapi di perjalanan pulang, beliau ragu kalau cabai itu benar-benar seberat dua kilo, karena di tangannya, sekantong cabai itu terasa lebih ringan. Asal kamu tahu, ibu saya ini bisa memperkirakan berat barang hanya dengan modal tangan. Bahkan dengan tangannya, beliau bisa menimbang dengan cukup akurat untuk berat di bawah satu kilo. Sangar nan. Sesampainya di rumah, ibu langsung menimbang ulang cabai itu di timbangan besi miliknya. Dan benar saja, beratnya hanya 1,8 kilo, alias dua kilo kurang dua ons. Duh, Dik. Bagi wanita, apalagi wanita itu adalah seorang pedagang, kurang 0,5 ons saja merupakan sebuah kekesalan, apalagi ini 2 ons.
"Mana harga cabai sedang naik, dikurangin pula timbangannya!" Mungkin begitu omelan ibu saya waktu itu.
Kemungkinan-kemungkinan akan kecurangan seperti itu membuat ibu saya--mau tak mau--harus pintar-pintar menawar dan teliti soal keakuratan timbangan barang. Tak jarang, caranya menawar membuat orang-orang memandangnya sebagai pribadi yang "tidak punya belas kasih". Heuheu :3
Saya, yang sudah dicekoki pemandangan tawar-menawar itu setiap hari, pada akhirnya tumbuh menjadi sesosok gadis (kalem) yang menganggap bahwa menawar itu hal yang sangat wajar, dan pada satu titik, sebuah keharusan.
Lain halnya dengan suami saya, beliau dididik oleh seorang ibu yang tidak suka menawar. Seringkali, ibu beliau justru melebihkan jumlah uang yang hendak dibayarkan, sekalian sedekah. Tapi, menurut hemat saya, ini dilakukan karena memang beliau tidak setiap hari berbelanja, apalagi belanja untuk kebutuhan dagang. Jadi, dari backround-nya saja sudah berbeda, maka sangat bisa dimaklumi jika sikap yang diambil pun berbeda.
***
Lalu bagaimana solusinya? Solusi agar saya dan suami bisa menemukan jalan tengah dari perbedaan ini.
Tentu pertama-tama, kami harus menyadari bahwa perbedaan sikap kami adalah output dari dua pengalaman hidup yang berbeda.
Dalam ilmu komunikasi, ada istilah Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE). FoR adalah nilai, konsep, cara pandang seseorang yang dipengaruhi oleh pola didik orangtua, pergaulan, buku bacaan, dll. Sedangkan FoE merupakan serangkaian kejadian yang dialami seseorang yang dapat membangun emosi dan sikap mentalnya.
FoR dan FoE inilah yang mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu informasi atau pesan yang datang kepadanya. Dan karena kami berdua lahir dari rahim yang berbeda, dididik oleh orangtua yang berbeda, tumbuh di lingkungan yang berbeda, berteman dengan orang-orang yang berbeda, membaca buku-buku yang berbeda, mengalami hal-hal yang juga berbeda, maka amat sangat wajar jika FoR dan FoE kami pun berbeda.
Yang perlu kami lakukan kemudian adalah berkomunikasi. Komunikasi yang bertujuan untuk "membagikan yang kutahu padamu, agar kamu mengerti", bukan "memaksakan pendapatku padamu, agar kamu mengikuti". Komunikasi semacam ini kelak akan melahirkan FoR dan FoE milik bersama. Bukan lagi tentang aku dan kamu, tetapi kita. *eaa
Ia melahirkan kompromi-kompromi yang membentuk kesamaan persepsi. Dan persepsi inilah yang akan menjadi nilai yang dipegang bersama.
Apakah prosesnya instan? Yo jelas ora. Bisa memakan waktu bertahun-tahun, Dik, kalo kamu pengen tahu. Maka jika ada yang mengatakan bahwa 5 tahun pertama pernikahan adalah masa-masa sulit, sekaligus menjadi penentu bagi langgengnya sebuah pernikahan, saya tidak menyangkalnya. Meskipun tidak serta merta mengiyakan karena kondisi tiap pasangan tidak selalu sama.
Pada akhirnya, saya belajar dari suami saya untuk lebih menghargai para pedagang yang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya lewat berjualan, dan memilih untuk tidak asal menawar (selama harganya masih wajar wkwk). Dan suami saya pun perlahan menyadari bahwa menawar itu tidak selamanya buruk. Ada kalanya ketika kami akan membeli buah di pasar, dan buah yang dicari itu sedang gila-gilaan harganya, suami akan mengatakan pada saya, "Kamu aja ya yang beli, aku ga bisa nawar." 😌 Di titik inilah saya merasa begitu sempurna.
***
Kesuksesan sebuah hubungan selalu membutuhkan dua hal sebagai kunci: KOMUNIKASI, lalu diikuti dengan KOMPROMI. Untuk bisa memiliki kuncinya, kamu memerlukan kesadaran bahwa tiap individu itu berbeda, lalu terima hal itu sebagai jalan menuju legawa.
Nah, kalau kamu dan kamu sudah memiliki kesadaran itu, saya pikir kalian siap untuk melangkah menuju jenjang hubungan yang lebih menantang; pernikahan. 🤸
✍🏻
Diketik dengan senyam-senyum, di bawah langit Tegal yang kian mendung,
April 2026.
0 comments:
Posting Komentar