BELAJAR DI ERA DIGITAL: APAKAH PERAN PENERJEMAH AKAN TERGANTIKAN OLEH AI?

Hai, saya Fina, mahasiswi Sastra Inggris di Universitas Terbuka. Kalau ditanya, "Pekerjaan apa yang berubah karena teknologi digital?" Saya akan menjawab, penerjemah.

Tentu, itu karena saya sedang belajar di bidang minat penerjemahan. Sudah pasti ada pekerjaan yang lain juga, namun saya memilih penerjemah sebagai bidang pekerjaan yang akan saya analisis perubahannya.

Berikut penjelasannya:
Pekerjaan penerjemah adalah salah satu profesi yang mengalami transformasi besar akibat teknologi digital, terutama dengan hadirnya Neural Machine Translation (NMT) dan Large Language Models (LLM) seperti ChatGPT, Gemini, dan Google Translate.

​Dahulu, para penerjemah bekerja secara manual kata demi kata dengan bantuan kamus fisik. Namun kini, dengan adanya teknologi digital berbasis kecerdasan buatan (AI) yang akurat, gratis, cepat, dan mendukung berbagai macam bahasa, peran mereka bergeser dari penyunting teks menjadi penyunting pasca-terjemahan mesin (post-editing machine translation) dan jembatan budaya. Di satu sisi, tentu ini menjadi kabar baik karena dengan berkembangnya teknologi AI komunikasi antar bahasa menjadi lebih mudah dan efisien. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan besar, apakah teknologi ini akan sepenuhnya menggantikan peran penerjemah manusia?

Dikutip dari situs s2paud.fip.unesa.ac.id, meskipun teknologi AI telah membuat kemajuan besar, penerjemah manusia tetap memiliki peran yang sangat penting, misalnya dalam hal pemahaman konteks, terjemahan kreatif, etika dan kerahasiaan, serta koreksi dan penyuntingan. AI masih sering kesulitan memahami konteks atau makna tersirat dalam teks, terutama pada karya sastra atau dokumen kompleks. AI juga tidak selalu memahami nuansa budaya yang terkandung dalam suatu teks, sehingga terjemahannya dapat terasa kaku atau kurang relevan. Di celah-celah inilah kehadiran penerjemah manusia akan tetap dibutuhkan.

Lalu, kompetensi baru apa yang diperlukan bagi para penerjemah agar bisa bertahan di tengah gempuran kemajuan teknologi?
​Keterampilan bahasa saja tidak lagi cukup, para penerjemah masa kini harus juga menguasai beberapa hal berikut:
1. ​PEMT (Post-Editing Machine Translation): Kemampuan mengoreksi dan menghaluskan hasil terjemahan AI agar terdengar alami, akurat secara konteks, dan memiliki rasa bahasa yang tepat.
2. ​Literasi Alat CAT (Computer-Assisted Translation): Mahir menggunakan perangkat lunak seperti SDL Trados atau Memsource yang menggunakan translation memory untuk konsistensi istilah.
3. ​Transkreasi (Translation + Creation): Kemampuan untuk bukan hanya menerjemahkan, tapi mengubah pesan (biasanya dalam iklan atau sastra) agar emosinya tetap sampai ke audiens lokal meskipun kalimatnya berubah total.
​4. Keahlian Spesialisasi (Niche): Menguasai bidang teknis yang sangat spesifik (seperti hukum, medis, teknik dirgantara, atau kode pemrograman) yang belum sepenuhnya bisa dipahami AI secara mendalam karena banyaknya data dan istilah-istilah khusus yang rumit.

Bagaimana dampaknya pada pendidikan tinggi?
​Salah satu dampak (atau mungkin bisa kita sebut juga sebagai respon dari dunia pendidikan tinggi) dari berkembangnya teknologi adalah masuknya mata kuliah Belajar di Era Digital ini sebagai mata kuliah wajib. Pihak pendidikan tinggi berupaya membekali mahasiswa dengan keterampilan literasi digital, etika siber, pencarian informasi, dan pemanfaatan teknologi untuk belajar mandiri.

Lebih khusus, jurusan sastra dan bahasa di universitas juga mengalami pergeseran paradigma; bukan lagi menghafal kosakata, melainkan memahami struktur bahasa tingkat tinggi dan logika bahasa. Kurikulum yang menekankan pada budaya & antropologi juga turut membantu mahasiswa memahami lebih dalam tentang nuansa budaya, idiom, dan sensitivitas lokal, area di mana manusia masih jauh lebih unggul dibandingkan mesin.

Semua langkah ini didukung oleh pemerintah dengan peluncuran Jurnal Penerjemahan Online oleh Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) melalui Pusat Pembinaan Penerjemah pada tahun 2025 lalu. Ini merupakan transformasi jurnal penerjemahan dari versi cetak menjadi daring, untuk mendorong akses ilmu pengetahuan dan literasi kebahasaan di tengah perkembangan era digital. Melalui situs https://jurnalpenerjemahan.setneg.go.id/ojp/ Kemensetneg menerbitkan makalah-makalah ilmiah terbaik yang akan berkontribusi pada pengembangan studi penerjemahan. Bagi mahasiswi Sastra Inggris seperti saya, ini adalah langkah yang patut diapresiasi.

Setelah menganalisis dampaknya, kira-kira strategi apa yang sebaiknya dilakukan oleh kampus?
​Kampus perlu memastikan lulusannya tidak kalah cepat dari mesin dengan cara:
1. ​Pelatihan Human-AI Collaboration: Di era yang serba cepat seperti sekarang, rasanya sulit untuk menghindari penggunaan teknologi berbasis AI dalam proses penerjemahan. Maka alih-alih melarang, akan lebih bijak apabila pihak dosen dan kampus mengajarkan mahasiswa cara melakukan prompting yang efektif untuk mendapatkan draf terjemahan awal yang berkualitas dari AI, lalu memolesnya. Menjadikan teknologi sebagai alat untuk melesat lebih jauh, bukan musuh.
2. ​Fokus pada Keahlian Interdisipliner: Mendorong mahasiswa bahasa untuk mengambil konsentrasi di bidang lain (seperti ekonomi atau hukum) agar mereka memiliki nilai tambah sebagai penerjemah spesialis.
​3. Program Magang di Industri Lokalisasi: Menghubungkan mahasiswa dengan perusahaan game atau aplikasi yang membutuhkan proses lokalisasi (menyesuaikan seluruh pengalaman pengguna ke bahasa lokal), bukan sekadar teks.
4. ​Etika dan Integritas Digital: Mendiskusikan masalah hak cipta dan kerahasiaan data saat menggunakan alat terjemahan berbasis awan (cloud).

​Perubahan teknologi ini memang menantang, namun bagi kita yang bisa menjadi "motor penggerak" dalam mengadopsi teknologi, peluangnya justru makin luas. Jika dianalogikan sebagai roket, teknologi AI adalah mesin pendorong yang mempercepat proses, namun kita, manusia, tetaplah motor penggerak yang menentukan arah dan akurasi tujuan.

Sekian.

Referensi:
Daryono, et al. (2025). Belajar di era digital. Penerbit Universitas Terbuka. (Modul 1)

Journal of Translation | Jurnal Penerjemahan. (n.d.). Jurnal Penerjemahan Sekretariat Negara Republik Indonesia. https://jurnalpenerjemahan.setneg.go.id/ojp/about

Penggunaan teknologi AI dalam terjemahan: Kelebihan, kekurangan, dan peran penerjemah manusia. (2025, January 2). S2 PAUD FIP UNESA. https://s2paud.fip.unesa.ac.id/post/penggunaan-teknologi-ai-dalam-terjemahan-kelebihan-kekurangan-dan-peran-penerjemah-manusia

Purnayoga, N. (2024, June 11). Revolusi AI dalam penerjemahan: Profesi penerjemah terancam punah? PW Translation. https://www.pw-translation.com/detail-news-62-revolusi-ai-dalam-penerjemahan-profesi-penerjemah-terancam-punah

0 comments:

Posting Komentar