BELAJAR DI ERA DIGITAL: KETERAMPILAN YANG PERLU DIKEMBANGIN, DEMI SUKSES BELAJAR DARING

Tadi pagi, saya menyempatkan diri membuka laman e-learning UT untuk mengerjakan tugas diskusi. Ini adalah hari ke-3 di minggu ke-2. Saya meng-klik matkul paling atas dalam jajaran dashboard; ialah Belajar di Era Digital.

Setelah beberapa menit membaca materi yang dilampirkan oleh tutor, saya pun masuk ke forum diskusi. Di sana, telah tertulis sebuah pertanyaan yang sekaligus perintah.

"Pada inisiasi ke-2 ini, diskusikanlah....

Keterampilan apa yang paling Anda butuhkan untuk sukses belajar online (mis. manajemen waktu, literasi informasi, catatan efektif)? Bagaimana strategi Anda untuk meningkatkannya?"

Ketika membacanya, yang pertama muncul dalam benak adalah kalimat dalam tanda kurung itu hanyalah sebuat contoh. Kata "mis." yang artinya "misalnya" merupakan bukti bahwa manajemen waktu, literasi informasi, dan catatan efektif hanyalah contoh dari beberapa keterampilan yang dibutuhkan, dan kami (para mahasiswa) diminta untul menguraikan mana yang paling penting menurut preferensi masing-masing. Kalaupun yang disebutkan adalah keterampilan lain di luar 3 itu, saya pikir sah-sah saja. Menurutmu gimana? Setuju nggak dengan pendapat saya ini?

Saya pun membuka kolom diskusi, dan.. seperti yang sudah diduga, hampir semua mahasiswi yang telah bergabung ke dalam diskusi menyebutkan 3 keterampilan tadi sebagai yang paling penting bagi mereka. Dan uraiannya mirip-mirip.

Tanpa ba-bi-bu, segera saja saya salin pertanyaan diskusi dari tutor dan tempel ke chatGPT. 
Benar saja!
ChatGPT memberikan jawaban dengan menjabarkan pentingnya 3 keterampilan tersebut, alih-alih memberikan referensi keterampilan lain yang mungkin sama pentingnya. Dan setiap inchi jawaban dari situs AI itu benar-benar tercermin di kolom-kolom diskusi teman-teman saya—dengan sedikit parafrase.

Saya tahu, 3 keterampilan tadi memang amat sangat penting dalam menunjang kesuksesan belajar online. Fleksibilitas waktu belajar dapat membuat kita terlena, sehingga kita butuh manajemen waktu. Mudahnya akses ke berbagai informasi, juga makin berkembangnya teknologi AI, membuat kita harus mengencangkan sabuk literasi digital agar mampu mencari sumber-sumber ilmu yang kredibel. Dan catatan efektif akan sangat berguna dalam membantu otak kita untuk mengingat apa saja yang kita baca, sebelum tsunami informasi mengacaukannya.

Tapi, yang saya ingin garis bawahi; apakah tidak ada keterampilan lain yang juga penting bagi mereka? 
Ataukah; teman-teman saya itu memahami soal diskusi sebagai perintah untuk menjabarkan skill-skill yang sudah disebutkan, alih-alih menganggapnya sebagai contoh belaka?

Mungkin memang saya yang keliru memahaminya. Tapi bagaimanapun, saya terlanjur memiliki jawaban berbeda. Jadi, saya tetap menuliskan apa yang ada dalam pikiran saya, sembari mencari sumber referensi yang sesuai.

Dan.. ini dia jawaban saya. 

***

Selamat siang, Ibu Tutor dan teman-teman di kelas Belajar di Era Digital.
Menarik sekali diskusi di sesi ke-2 ini. Izinkan saya menyampaikan pendapat saya ya, Bu.

Belajar online artinya kita tidak bertatap muka langsung dengan dosen/guru dan teman-teman untuk bertukar pikiran. Semua bentuk transfer informasi dan komunikasi dilakukan melalui media digital. Butuh keterampilan untuk melaluinya dengan baik. Saya setuju dengan teman-teman yang berpendapat bahwa manajemen waktu, literasi digital, dan catatan efektif merupakan keterampilan-keterampilan yang kita butuhkan untuk sukses dalam belajar online. Namun, menurut saya ada keterampilan-keterampilan yang lebih spesifik yang sangat penting untuk kita miliki dan asah di era ini. Dan oleh karena sudah banyak dari teman-teman yang menjelaskan tentang 3 keterampilan tersebut di atas, maka saya mohon izin untuk memberikan perspektif lain.

1. Critical Thinking
Critical thinking atau berpikir kritis adalah keterampilan untuk mempertanyakan, mengevaluasi, dan menginterpretasikan suatu hal dengan logis, objektif, dan sistematis. 
Di era di mana mesin mampu bergerak lebih cepat dari kemampuan berpikir manusia ini, akses terhadap informasi terbuka lebar, arus informasi mengalir begitu derasnya dan setiap individu bebas beropini di platform digital. Keterampilan berpikir kritis digunakan untuk mempertanyakan sesuatu, membedahnya sesuai dengan fakta yang ada, dan berujung pada ketetapan keyakinan. Ini penting agar kita tidak mudah tergiring pada opini yang salah, dan sekaligus memperkuat kemampuan kita dalam berargumen. Tanpa keterampilan berpikir kritis, kita akan memiliki kecenderungan mengambil jawaban dari internet atau platform AI tanpa memprosesnya lebih lanjut. 

Bagaimana strategi saya untuk meningkatkannya?
Kurangi doomscrolling, perbanyak membaca, dan mempertanyakan. "Mengapa" dan "bagaimana" adalah dua pertanyaan yang wajib dilontarkan ketika mendapatkan informasi. Dari dua pertanyaan itu, kita akan mulai mencari sumber-sumber informasi yang kredibel, untuk kemudian dapat mengambil kesimpulan dengan logis dan objektif. Memang akan memakan waktu lebih lama dibandingkan hanya menyalin informasi yang sudah ada, namun kita akan mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif. Dan... bukankah salah satu indikator keberhasilan proses belajar online itu dinilai dari tingkat pemahaman siswanya?

2. Analytical Thinking
Apa yang membedakan seorang terpelajar dengan yang tidak, selain attitude? Menurut saya, itu adalah kemampuan berpikir analitisnya. Berpikir analitis adalah keterampilan mengorganisasikan pemikiran dengan lebih terstruktur, sehingga dapat menyampaikan gagasan secara jelas, lugas, dan efektif. Keterampilan ini memudahkan kita untuk efisien dalam memecahkan masalah (misalnya saat mengerjakan tugas) tanpa keluar dari konteks.
Belajar online artinya belajar secara mandiri. Memang, dosen/guru akan membantu menyusun dan menyajikan materi belajar, namun kita sendirilah yang akan merunutkannya agar menjadi satu kesatuan ilmu yang berkesinambungan. Jadi, penting bagi kita untuk memiliki keterampilan berpikir analitis agar sukses belajar online.

Bagaimana strategi saya untuk meningkatkan keterampilan ini?
a. Manfaatkan teknologi AI untuk brainstorming, tapi bukan untuk menelannya mentah-mentah sebagai kesimpulan akhir.
b. Berdiskusi dengan saudara, teman, atau pasangan. Output dari pengorganisasian pemikiran adalah menulis dan berbicara, itulah mengapa ada tugas esai dan presentasi di perkuliahan offline. Namun karena kita belajar secara online, tidak banyak tugas presentasi yang diberikan. Maka untuk mengasah keterampilan berpikir analitis, kita bisa memperbanyak diskusi di lingkungan sekitar. Dengan berdiskusi, kita akan didorong untuk mengolah informasi yang kita miliki menjadi narasi yang runut dan mudah dipahami oleh lawan bicara.

3. Creative Thinking
Apa yang membedakan kita dengan AI, selain emosi tentunya? Ialah kreativitas. Kreativitas bukan soal menemukan jawaban dengan cepat, tapi tentang bagaimana kita bisa mengubah ide menjadi sesuatu yang bermakna. Kreativitas juga tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang instan. Ia bisa terbentuk melalui proses yang berkelanjutan, melibatkan pengamatan, eksplorasi, dan pengolahan berbagai referensi. Maka itu, keterampilan berpikir kreatif sangat bisa diasah dan dikembangkan.

Belajar online artinya kita harus siap bertarung melawan AI detector. Kita dapat dengan mudah meminta AI mencarikan jawaban dari setiap tugas yang diberikan. Dalam hal penerjemahan (karena saya adalah mahasiswi Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemah), sangat mudah menerjemahkan sebuah teks menggunakan tools berbasis AI. Tentu, hal ini membantu mempercepat pekerjaan kita. Namun, hasilnya akan selalu terdeteksi sebagai AI. Bahkan, tidak menutup kemungkinan tulisan hasil berpikir kita sendiri pun bisa terdeteksi sebagai AI. Di sinilah pentingnya menggunakan kreativitas.

Dengan membuat kalimat yang lebih kompleks, menggunakan diksi-diksi tertentu agar lebih bermakna, dan menambahkan perspektif atau pengalaman pribadi, dapat menjadikan jawaban kita lebih "manusia" dan setingkat lebih unggul.

Last but no least, keterampilan ini juga akan membantu kita lebih adaptif dalam belajar di era kemajuan teknologi dan digitalisasi.

Bagaimana strategi untuk meningkatkannya?
a. Menambah wawasan dan memperkaya sudut pandang
b. Menggabungkan ide-ide menjadi sebuah inovasi. Strategi ini bisa dimulai dengan ATM (Amati, Tiru, Modifikasi), sampai kita menemukan "warna" kita sendiri.

Mungkin demikian yang dapat saya sampaikan.

Kalau belajar online ini diibaratkan dengan memasak hidangan, maka 3 keterampilan (manajemen waktu, literasi informasi, dan catatan efektif) tadi seperti hal-hal teknis (durasi, resep, dan peralatan yang digunakan). Sedangkan keterampilan berpikir yang saya sebutkan itu seperti cara kita (sebagai koki) mengolah resep yang ada menjadi cita rasa yang istimewa. Sehingga menghasilkan hidangan yang tidak hanya enak, namun berkesan dan bikin mau nambah porsi lagi.

Semuanya sangat dibutuhkan. Hanya saja bagi saya, skill untuk membuat masakan lebih berkesan menjadi yang terpenting, sebab hal itu membuat saya bisa "bertahan" bahkan dengan minimnya peralatan. :)

Terima kasih.

Saya akan sangat berterima kasih jika Ibu dan juga teman-teman di sini berkenan menanggapi dan mengoreksi jawaban saya.

Referensi:
Daryono, et al. (2022). Belajar di era digital (Modul 1 & 2). Penerbit Universitas Terbuka.

Bray, R. (2026, April 15). Analytical skills in the workplace: Importance & examples. Cloud Assess. https://cloudassess.com/blog/analytical-skills/

Murti, B. (n.d.). Berpikir kritis (critical thinking). Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret. https://fk.uns.ac.id/static/file/criticalthinking.pdf

BINUS University. (2026, April 15). Creative thinking in the digital era: Membangun cara berpikir di tengah dunia yang serba instan. https://binus.ac.id/medan/2026/04/15/creative-thinking-in-the-digital-era-membangun-cara-berpikir-di-tengah-dunia-yang-serba-instan/

***

Atas jawaban di atas, saya mendapatkan feedback positif dari tutor dan nilai yang cukup baik, yaitu 98. Dan tanpa saran perbaikan.

Alhamdulillah.
Apakah artinya persepsi saya terkait soal diskusi sudah tepat? Atau Tutor memberi nilai baik hanya karena jawabannya logis? 
Entahlah, yang jelas her feedback was made my day. ❤️

Diketik sebagai curhatan dari seorang mahasiswi semester 6,
Tegal, April 2026.

0 comments:

Posting Komentar