Muhammadiyah dan Tahlilan
"Pak Hasan, Pak Hasan."
panggil seorang pemuda, setengah berlari mengejar Pak Hasan yang lebih dulu
meninggalkan latar masjid.
Pak Hasan menghentikan langkahnya,
lalu membalikkan badan. Dilihatnya tiga orang pemuda tergesa-gesa memghampirinya.
"Piye, Le?"
"Ngapurane, Pak Hasan. Sudah
dengar kabar?"
"Kabar opo?"
"Kaji Tholani mengadakan
upacara tahlilan."
***
Kabar meninggalnya Ibunda dari Haji
Tholani--seorang yang disegani karena kedermawanannya--telah tersebar ke
seluruh penjuru kota. Orang-orang berbondong datang memenuhi rumahnya. Dari
tetangga sebelah rumah, saudara, sahabat karib, sampai kenalan yang tinggal di
luar kota, tumpah ruah di pelataran rumah. Beberapa wanita paruh baya--mungkin
kawan ngaji ibundanya--berebut memeluknya dengan bersimbah air mata,
menceritakan dengan sesenggukan bagaimana dahulu ibundanya memperlakukan mereka
dengan sangat baik. Lalu tangan-tangan yang mulai mengeriput itu menyelipkan
berlembar amplop ke dalam saku bajunya, meminta izin untuk melihat jenazah,
melantunkan yaasiin-tahlil dengan suara pelan, sebelum akhirnya pamit pulang.
Tapi tidak semuanya. Dua-tiga di antara mereka memaksa menginap agar bisa
membantu segala urusan keluarga si mayit. Dan Haji Tholani mengiyakan.
Kehadiran tamu itu tak kunjung berhenti. Para tamu laki-laki, memilih menyalami
Haji Tholani dalam senyap, sebagai tanda ucapan bela sungkawa, untuk kemudian
duduk lama melafadzkan doa-doa.
Hingga sore menjelang, sampai adzan
maghrib dikumandangkan, gelombang arus tamu-tamu dari berbagai daerah itu tak
juga surut.
"Bu..." Haji Tholani
memberi isyarat pada isterinya untuk mendekat.
"Nggih, Pak?"
"Belanjalah untuk keperluan
para tamu. Bapak memperkirakan, orang-orang akan terus berdatangan sampai
beberapa hari ke depan."
"Nggih, Pak. Tapi..."
"Insyaa Allah, ini tidak
seperti yang Ibu khawatirkan." Potong Haji Tholani, setengah berbisik.
Istrinya tersenyum samar. Lalu
dengan anggukan kecil, dia pamit ke belakang rumah.
Pak Hasan ada di sana, di antara
bapak-bapak yang bersila, pada hari meninggalnya ibunda Haji Tholani. Tapi ia
baru berani menghampiri ketika tamu-tamu lain selesai menyalami.
"Lan..." Panggilnya
lirih.
Haji Tholani menoleh. "Pak
Hasan." Disalaminya lelaki itu, lalu dipeluknya erat.
"Semoga khusnul
khotimah."
"Aamiin. Allahumma
aamiin." Terdengar isak yang cukup keras dari jarak lima meter.
Itu terjadi pada hari Selasa, dua
hari sebelum para pemuda menegur Pak Hasan di depan masjid.
***
Keesokan siangnya, selepas sholat
Jum'at, beberapa pemuda mendesak Pak Hasan untuk menanyakan alasan mengapa Haji
Tholani melangsungkan upacara tahlilan di rumahnya. Mereka memaksa Pak Hasan
menegur, bahkan kalau perlu, menasehati Haji Tholani.
"Pak Hasan kan pernah memberi
khutbah kepada kami, bahwasanya upacara semacam itu ialah bid'ah. Tapi lihat,
sekarang salah satu jama'ah masjid ini sedang melangsungkannya."
Suasana memanas ketika tak lama
kemudian, sosok yang tengah diperbincangkan bergabung dengan mereka.
"Assalamu'alaykum."
"Wa'alaykumussalam
warrohmatullah."
Pemuda-pemuda itu terlihat
canggung.
"Lan..."
"Nggih, Pak Hasan."
"Ini hari keempat meninggalnya
ibu. Kata anak-anak di sini, sampean nggelar tahlilan. Opo bener?"
Haji Tholani berdeham kecil. Sadar
bahwa orang-orang pasti meresahkan hal yang sama dengan isterinya.
"Kalau yang begitu itu disebut
nggelar tahlilan, nggih leres, aku izinkan para tamu untuk membacakan yaasiin
dan tahlil buat almarhumah ibuku. Aku juga suruh isteriku untuk menyajikan
makanan dan minuman. Hari pertama, hari kedua, sampai semalam, alhamdulillah
tamu-tamu tetap banyak."
"Tuh, kan. Apa yang kami
bilang itu benar, Pak Hasan. Kaji Tholani mengadakan acara bid'ah."
"Hush! Jaga omonganmu,
Le!" Pak Hasan menghardik.
"Wah, ndak bener ini. Pak
Kaji, panjenengan kan orang yang cukup berpengaruh di jama'ah kita, harusnya
memberikan contoh yang benar dong. Jangan begini."
Mendengar berbagai tudingan dari
pemuda-pemuda itu, tak tampak sedikit pun perubahan pada air muka Haji Tholani.
Ia tetap santai. Dan dengan tenangnya berucap:
"Tamu yang datang untuk sekedar
silaturrahim saja aku persilahkan duduk. Aku jamu dengan minuman dan makanan
yang lezat. Apalagi mereka, yang datang jauh-jauh untuk mendoakan ibuku.
Mendoakan orang yang kami cintai."
Lalu, sebelum semuanya
sempat menyela, Haji Tholani menambahkan, "Apa Muhammadiyah mengajarkan
kita untuk jadi tuan rumah yang kurang ajar?"
0 comments:
Posting Komentar