Seperti biasa, suami menumpahkan segala unek-unek yang memenuhi kepalanya, mulai dari tugas-tugas S2-nya yang bejibun, proyek komersilnya yang menumpuk, ide-ide yang tak pernah habis, sampai POV-nya tentang semua yang terjadi di muka bumi; termasuk soal perang terkini dan berita-berita viral. Saya, tentu kewalahan, namun tetap menampung ceritanya dengan elegan, seperti telaga yang sanggup meredam derasnya air terjun menjadi aliran yang tenang. #tsaaah
Melihatnya berceloteh seperti itu membuat saya berpikir...
Di dunia ini, ada banyak sekali tipe manusia. Dua di antaranya adalah mereka yang pandai membaca peta dan menyusun rencana, dan mereka yang terampil dalam bertahan di segala cuaca. Suami saya jelas masuk kategori pertama. Saya, ya nggak perlu ditanya tho ya. 😌
Kalau dianalogikan ke dalam sistem peluncuran SpaceX milik Elon Musk (gara-gara semalam saya habis nonton videonya di toktok 🤣), maka suami saya adalah Starshipnya; ambisius, penuh visi, dan kalau sudah bicara soal ide, rasanya seperti mendengarkan Pak Elon versi lokal yang baru saja menelan lima butir vitamin otak. Bedanya, doi nggak hobi mengubah nama media sosial menjadi satu huruf doang (baca: X) wkwk.
Buat kamu yang mungkin belum tahu, peluncuran roket Starship milik SpaceX yang reusable itu memiliki dua komponen utama dan 1 peran tambahan yang tak kalah penting; yaitu Super Heavy Booster yang menjadi pendorong tahap pertama, Starship yang menjadi pesawat ruang angkasa tahap kedua, dan Mechazilla sang menara peluncur yang menjadi titik lepas landas. Setelah berhasil meluncur, si booster akan dijatuhkan untuk mengurangi bobot pesawat, dan ditangkap kembali oleh menara untuk diisi ulang energinya.
Suami saya punya pace yang cepat. Otaknya muter terus. Ide-ide mengalir tanpa henti. Dan kalau sudah fokus, dia bisa menyelesaikan tugas dalam waktu singkat dengan analisis yang sama sekali jauh dari kata dangkal. Persis roket yang diluncurkan. Ngeri pokoknya.
Dan dia akan menjadi lebih nggak sabaran lagi ketika kurva karirnya berada di posisi lembah. Saat dia merasa kurang produktif, semua ide di kepalanya akan memberontak keluar, memaksa untuk direalisasikan. Ide-ide ini akan menjadi proyek booster yang menghasilkan daya dorong masif untuk mngangkatnya ke puncak kurva.
Nah, masalahnya, ketika karirnya menanjak naik, dia tidak akan bisa menggendong semua proyek-proyek boosternya itu. Di titik inilah saya mengambil peran. Saya bukan roket lain yang menanti untuk diluncurkan. Saya adalah launch tower yang menjadi pijakan awal. Lalu ketika boosternya mulai dijatuhkan, lengan inilah yang akan menangkapnya kembali agar tidak menjadi sampah luar angkasa; mem-backup realisasi ide dan mengeksekusi sisanya.
Awalnya memang berat. Dulu, berkali-kali saya mbatin, "Lhah, kok dia terus yang meluncur? Ambisi saya gimana? Saya kan juga mau jadi roket yang meluncur menembus awan!"
Tapi lambat laun, lewat simulasi rumah tangga yang penuh remedial dan komunikasi yang lebih alot dari daging rendang, saya menyadari bahwa pernikahan itu soal kerja sama dan saling melengkapi. Kalau dia ambil peran menjadi Starship yang sibuk dengan urusan langit, maka saya cukup bangga menjadi Mechazilla yang berdiri kokoh di bumi. Toh, sekeren-kerennya Starship, tanpa menara yang mengisi ulang bahan bakarnya, dia cuma akan jadi rongsokan baja di tengah segara. Wk
Menara peluncur yang stabil juga merupakan titik awal keberhasilan sistem dan kunci kebahagiaan semua kru. Kalau menaranya goyah, roket gagal meluncur, dan anak-anak kami (roket-roket kecil masa depan) akan kehilangan tempat lepas landas yang aman.
Kami berbagi peran. Dia yang terbang, saya yang memastikan dia punya tempat untuk pulang. Tidak saling mendahului, namun saling melengkapi dalam satu sistem peluncuran yang tak terhentikan. #eaaa
Sebagai penutup dari tulisan embuh di siang bolong ini, kamu cuma perlu tahu, untuk membangun menara sebadass Mechazilla, Elon Musk butuh miliaran dollar. Tapi saya, cuma butuh kesabaran seluas samudra dan asupan kopi yang cukup. #iziiin
Tegal,
April 2026.
0 comments:
Posting Komentar